Sunday, March 29, 2015
Saturday, March 7, 2015
To All The Girls I've Loved Before
Selalu indah...

https://www.youtube.com/watch?v=0NLNv7W6ASA
Megat Tresno
Yen Kelingan marang sliramu wong ayu
Koyo rinujit nujit jroning atiku
Jaman biyen biyene
Aku katon opo
Saikine aku iki katon opo
Dhek semono sliramu nate prasetyo
Bungah susah dilakoni kanthi lilo
Mulo aku ra ngiro
Yen sliramu cidro
Ninggal kromo milih karo priyo liyo
Jan jane iki mau salahe sopo
Kok nganthi sliramu megatake tresno
Ora nyono atiku ugo ora ngiro
Yen Saiki uripku banget nelongso
Duh wong ayu mung welingku mring sliramu
Ojo tego welaso putro putrimu
Aku wong ora guno
Lopo tur kuciwo
Wis tak trimo
Pasrah karo kang kuwoso
Yen Kelingan marang sliramu wong ayu
Koyo rinujit nujit jroning atiku
Jaman biyen biyene
Aku katon opo
Saikine aku iki katon opo
Dhek semono sliramu nate prasetyo
Bungah susah dilakoni kanthi lilo
Mulo aku ra ngiro
Yen sliramu cidro
Ninggal kromo milih karo priyo liyo
Jan jane iki mau salahe sopo
Kok nganthi sliramu megatake tresno
Ora nyono atiku ugo ora ngiro
Yen Saiki uripku banget nelongso
Duh wong ayu mung welingku mring sliramu
Ojo tego welaso putro putrimu
Aku wong ora guno
Lopo tur kuciwo
Wis tak trimo
Pasrah karo kang kuwoso

https://www.youtube.com/watch?v=0NLNv7W6ASA
Megat Tresno
Yen Kelingan marang sliramu wong ayu
Koyo rinujit nujit jroning atiku
Jaman biyen biyene
Aku katon opo
Saikine aku iki katon opo
Dhek semono sliramu nate prasetyo
Bungah susah dilakoni kanthi lilo
Mulo aku ra ngiro
Yen sliramu cidro
Ninggal kromo milih karo priyo liyo
Jan jane iki mau salahe sopo
Kok nganthi sliramu megatake tresno
Ora nyono atiku ugo ora ngiro
Yen Saiki uripku banget nelongso
Duh wong ayu mung welingku mring sliramu
Ojo tego welaso putro putrimu
Aku wong ora guno
Lopo tur kuciwo
Wis tak trimo
Pasrah karo kang kuwoso
Yen Kelingan marang sliramu wong ayu
Koyo rinujit nujit jroning atiku
Jaman biyen biyene
Aku katon opo
Saikine aku iki katon opo
Dhek semono sliramu nate prasetyo
Bungah susah dilakoni kanthi lilo
Mulo aku ra ngiro
Yen sliramu cidro
Ninggal kromo milih karo priyo liyo
Jan jane iki mau salahe sopo
Kok nganthi sliramu megatake tresno
Ora nyono atiku ugo ora ngiro
Yen Saiki uripku banget nelongso
Duh wong ayu mung welingku mring sliramu
Ojo tego welaso putro putrimu
Aku wong ora guno
Lopo tur kuciwo
Wis tak trimo
Pasrah karo kang kuwoso
Wednesday, March 4, 2015
Keinginan Sederhana
Evelyn to Rafe
Oh Rafe, all I ever wanted was for us to have a home and grow old together, but life never asked me what I wanted. Now I'm going to give Danny my whole heart... but I don't think I'll ever look at another sunset without thinking of you... I'll love you my whole life.
Oh Rafe, all I ever wanted was for us to have a home and grow old together, but life never asked me what I wanted. Now I'm going to give Danny my whole heart... but I don't think I'll ever look at another sunset without thinking of you... I'll love you my whole life.
Wednesday, February 25, 2015
10 Perbedaan Antara Mereka yang Sukses dan Mereka yang Akan Terus Biasa-Biasa Saja
Pernahkah kamu penasaran kenapa tidak semua orang bisa keluar menjadi sukses dalam kehidupan mereka? Terkadang malah seseorang yang dibesarkan dalam fasilitas-fasilitas dan berbagai kenyamanan bisa mengambil keputusan-keputusan sembarangan, mangkir dari tanggung jawab, dan tak pernah mengetahui apa makna dari hari-hari yang dilaluinya. Sebaliknya, seseorang bisa dibesarkan dalam keluarga yang biasa-biasa saja, belajar mengambil kesempatan dalam kesempitan yang dilaluinya, hingga akhirnya mampu menjalani hidup yang bermakna. Ini menunjukkan, kesuksesan lebih banyak kaitannya dengan mental dan kerja keras kita daripada kondisi keluarga yang di mana kita lahir. Artinya, orang yang berasal dari manapun dan dari keluarga apapun punya kesempatan untuk menjadi sukses — jika mereka punya mental yang tepat.
Lantas apakah itu yang disebut dengan mental orang-orang sukses? Di bawah ini adalah 11 perbedaan mental antara mereka yang sukses dan mereka yang akan jadi biasa-biasa saja selamanya.
1. Bagi orang biasa, orang sukses adalah mereka yang banyak harta. Bagi orang sukses, harta hanyalah alat untuk mewujudkan tujuan mereka yang sebenarnya.
Perbedaan antara mereka yang sukses dan mereka yang biasa-biasa saja sebenarnya sesederhana bagaimana keduanya memandang nilai uang.
Bagi orang yang biasa-biasa saja, “sukses” adalah memiliki banyak uang dan harta. Selain simpanan yang aman di berbagai bank, sukses juga berarti bisa bersekolah di sekolah elite, memiliki gadget terbaru, bisa ke luar negeri sesering mungkin, atau punya mobil lebih dari satu. Orang yang sukses adalah orang yang bisa memiliki kenikmatan-kenikmatan di atas.
Nyatanya bagi mereka yang benar-benar sudah merasakan kesuksesan, “sukses” bukanlah tentang cara mendapatkan sebanyak-banyaknya kenikmatan. Sukses adalah tentang memikirkan bagaimana cara memanfaatkan kenikmatan-kenikmatan itu untuk mewujudkan tujuan yang lebih besar lagi. Ya, orang sukses tidak akan puas hanya bisa bersekolah di tempat baik, memiliki gawai yang canggih, atau pergi ke luar negeri. Lebih dari itu, mereka juga akan memikirkan cara terbaik untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah mereka dapat di sekolah ke masyarakat. Mereka mengambil pelajaran hidup terbaik dari perjalanan-perjalanan mereka ke luar negeri, dan menjadi pribadi yang lebih rendah hati. Prinsip mereka, kenikmatan-kenikmatan itu hanyalah alat untuk memiliki hidup yang lebih bermakna. Karena menghidupi makna adalah kesuksesan yang sebenarnya.
2. Orang yang sukses dalam arti nyata tak akan lupa bahwa hidup tidak hanya berisi kerja. Pada hal-hal penting lainnya, mereka setia.
Mereka tak mengorbankan kehidupan pribadi mereka. Alih-alih terus bekerja dan berusaha, mereka juga ingat akan keluarga, sahabat, dan Tuhannya. Mereka yang ‘kurang sukses’ biasanya tak mengindahkan bagian ini.
Ketika banyak orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang tanpa memperhatikan kehidupan pribadi, mereka justru sadar bahwa untuk mendapatkan kesuksesan yang sesungguhnya, mereka juga harus menjaga kehidupan pribadi mereka sendiri, baik dari segi fisik, mental, dan spiritual.
3. Membicarakan keburukan orang tidaklah menarik mereka. Orang sekitar justru dijadikan inspirasi yang mesti dihormati.
Orang-orang yang sukses memperlakukan orang lain dengan sangat hormat, dan menghargai setiap perbedaan dan karakter masing-masing individu. Mereka tak akan pernah tertangkap basah memulai percakapan dengan kalimat:
“Tahu nggak, tadi tuh si X…”
Bagi mereka, orang lain itu ada bukan untuk dibicarakan keburukannya. Orang lain ada untuk menawarkan pelajaran dan inspirasi kepada kita. Bukannya mencari celah buruk orang sekitar, orang-orang yang benar-benar sukses justru memperlakukan mereka dengan penuh penghargaan. Ini karena mereka tahu, dari mana saja mereka bisa belajar.
4. Mereka tak hanya bekerja keras, namun juga bekerja cerdas. Hak tubuh untuk beristirahat selalu mereka bayar lunas.
Selama ini, kita selalu diajarkan untuk bekerja keras. Mengorbankan reuni dengan teman lama, waktu luang di akhir pekan, hingga waktu tidur malam agar bisa menghasilkan karya terbaik yang bisa ada. Menunda kesenangan-kesenangan pribadi agar bisa lebih berkonsentrasi meraih ambisi.
Kita lupa bahwa yang tak kalah pentingnya dari bekerja keras adalah bekerja cerdas. Mengetahui ritme kerja tubuh, memaksimalkan kapasitas otak, menghindari distraksi. Dengan ini, kita tak perlu mengorbankan banyak waktu luang demi target-target pekerjaan. Kita pun tak perlu menggunakan waktu istirahat untuk bekerja.
Karena istirahat adalah hak setiap manusia. Dengan istirahat, tubuh serta pikiran kita akan menjadi segar dan siap untuk menghadapi segala tantangan. Jika kita memaksa untuk bekerja secara terus-menerus, kita tak akan memiliki waktu untuk berpikir jernih. Lagipula, apa kita mau menghabiskan masa muda hanya untuk bekerja, sebelum tiba-tiba menjadi tua lalu meninggal dunia?
5. Kesuksesan tak pernah datang sekejap mata. Ia baru mau mengetuk pintu setelah mencium bau darah dan keringatmu.
Kesuksesan tak datang sekejap mata
Bahkan segala macam ketakutan dan kekhawatiran mengenai masa depan selalu mewarnai langkah manusia. Maka tak jarang banyak orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan keinginan mereka. Berbuat curang, korupsi, mengambil yang bukan haknya, menipu, adalah contoh yang sering temui di masyarakat. Alih-alih tergiur dengan keuntungan instan, orang-orang sukses justru tetap berpegang teguh pada prinsip mereka.
6. Ilmu adalah kue manis yang harus dibagi-bagi. Bagi orang-orang yang benar-benar sukses, percuma punya makanan enak kalau harus dihabiskan sendiri.
Mungkin di dunia ini kita akan sering dihadapkan pada orang yang enggan membagi ilmunya. Baik di teman kampus maupun teman kantor, ada saja yang tidak mau membagi pengetahuaanya kepada para junior. Mungkin karena alasan tidak mau disaingi, atau tak ingin jabatannya diambil oleh mereka yang lebih berkompeten. Tipe-tipe orang yang seperti ini biasanya adalah orang yang malas, dan tak mau pindah dari zona nyamannya.
Orang yang sangat sukses justru sadar bahwa membagi ilmunya kepada orang lain justru akan sangat bermanfaat bagi tujuan-tujuan mereka. Mereka sadar bahwa generasi muda-lah yang akan menjadi penerus.
7. Orang sukses dan orang biasa sama-sama pernah terpuruk gagal. Namun, orang sukses tak pernah kehilangan rasa percaya pada rencana Tuhan.
Meski telah diterpa dengan berbagai macam cobaan, mereka tetap tegar dan berusaha untuk bangkit lagi. Tak ada kata menyerah dan putus asa di dalam kamus mereka. Cobalah kalian lihat sendiri, adakah orang sukses yang dalam perjalanannya sama sekali tak menemui kegagalan? Kamu bahkan akan terkejut jika menemukan fakta bahwa orang-orang yang paling sukses justru lebih banyak mengalami hal buruk dibanding mereka yang ‘kurang sukses’.
Yang membedakan mereka adalah kepercayaan yang tak pernah pudar pada rencana Tuhan. Ketika terpuruk karena kegagalan dan bahkan hampir mencapai kebangkrutan, mereka tidak mengkhianati nilai-nilai kegigihan yang selama ini mereka percaya. Bagi mereka, ini hanyalah cara Tuhan menyuruh mereka mempersiapkan diri sebelum menjemput rezeki yang lebih besar lagi. Karena Tuhan adalah satu-satunya dzat yang tak pernah mengkhianati perkataan-Nya sendiri.
8. Mereka tak merasa paling pintar meski gemar berbagi ilmu. Justru, merekalah yang paling mudah mengaku tidak tahu.
Daripada menebak-nebak dengan jawaban yang klise dan terkesan dibuat-buat, mereka lebih memilih untuk mengatakan bahawa mereka memang tidak tahu. Mereka berhati-hati, dan lebih memilih untuk meminta saran atau nasehat kepada orang yang lebih ahli untuk menghindari kesalahpahaman dan keputusan yang salah.
9. Mereka pun sadar bahwa kebahagiaan itu nyata hanya jika bisa dibagi.
9. Mereka pun sadar bahwa kebahagiaan itu nyata hanya jika bisa dibagi.
Apalah arti hidup ini jika kita hanya menikmati nikmat yang didapat seorang diri. Dengan berbagi kepada orang lain menunjukkan bahwa kita peduli, kita sadar bahwa kita tak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, dan yang lebih penting adalah kita dapat berbagi secuil kebahagiaan kepada mereka yang lebih membutuhkan. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain?
10. Alih-alih membenci dan sibuk berkompetisi, mereka belajar untuk mencintai. Bahkan jika itu musuhnya sendiri.
“Musuh yang pintar lebih baik daripada teman yang bodoh.”Pepatah Arab
Mereka sadar, dengan membenci musuh-musuh atau saingan mereka, akan mengakibatkan rasa sakit di dalam hati yang bahkan bisa berimplikasi kepada kebencian dan rasa khawatir yang berlebih. Daripada membenci, toh lebih baik saling bekerja sama untuk mendapatkan tujuan yang ingin dicapai. Bahkan kekuatan dan keberanian yang sebenarnya adalah bagaimana caranya mencintai mereka yang tak mudah untuk dicintai.
Nah, sudahkah kalian mempraktikkan salah satu dari sifat-sifat orang sukses diatas? Jika belum, Hipwee sarankan mulai sekarang untuk segera mempraktikkan beberapa diantaranya. Good luck!
Sumber : http://www.hipwee.com/
Saturday, February 21, 2015
TERIMA KASIH TELAH MENJADI ISTRI DAN IBU
Banyak hal dikorbankan seorang wanita untuk menjadi seorang istri.
Banyak hal dikorabnkan seorang istri untuk menjadi seorang Ibu.

Ketika mata kita terbuka, hingga nanti ketika mata kita tertutup dalam lelap tidur malam. Seorang Ibu dan seorang istri dengan setia menajalankan segala tugasnya.
Mereka bangun paling awal dan tidur paling larut.
Kita bisa melihat dari pagi hingga malam mereka bergelut dengan urusan rumah tangga. Dengan tujuan mulia, anak-anak menjadi sehat dan tumbuh dengan bahagia. Agar suaminya bisa menjalankan kegiatan pokonya menjadi kepala rumah tangga.
Ketika waktu menjelang senja, kita menemukan tangan mereka begitu kasar. Tumpukan cucian dan setumpuk pekerjaan rumah tangga lainnya telah merusak keindahan tangan itu.
Kita bisa menemukan sorga itu tidak lagi seindah ketika pertama kali mendatanginya. Buah hati yang kita miliki tidak datang diantar bangau, seperti cerita kita dengar diamasa kecil kita. Buah hati kita datang dengan berbagai kerusakan dan pertaruhan.
Payudara indah yang telah menghidupi anak-anak tidak sekencang dan seindah ketika pertama kali kita menyentuhnya. Selain gravitasi dan umur, anak-anak telah memberi andil besar dalam penurunan dan berkurang kekencangannya.
Banyak hal telah kalian pertaruhkan untuk menjadi seorang istri dan seorang Ibu. Banyak hal telah kalian korbankan untuk menjadi seorang istri dan Ibu bagi kami.
Terima kasih atas segala hal yang telah kalian lakukan kepada kami. dan kami sangat hormati atas kedua keputusan besar yang telah kalian lakukan.
Kami sangat menghargainya.
Kalau ada lelaki memandangmu buruk karena tubuhmu tidak seindah dulu. Mintalah padanya untuk menghormati setiap pengorbanan yang telah kalian lakukan.
Kalau hal itu juga tidak dia berikan, yakinlah lelaki itu tidak baik untuk suami dan ayah bagi anak-anakmu.
Dari lubuk hati terdalam..... Terima kasih.... telah menjadi seorang istri dan Ibu bagi kami.
Banyak hal dikorabnkan seorang istri untuk menjadi seorang Ibu.

Ketika mata kita terbuka, hingga nanti ketika mata kita tertutup dalam lelap tidur malam. Seorang Ibu dan seorang istri dengan setia menajalankan segala tugasnya.
Mereka bangun paling awal dan tidur paling larut.
Kita bisa melihat dari pagi hingga malam mereka bergelut dengan urusan rumah tangga. Dengan tujuan mulia, anak-anak menjadi sehat dan tumbuh dengan bahagia. Agar suaminya bisa menjalankan kegiatan pokonya menjadi kepala rumah tangga.
Ketika waktu menjelang senja, kita menemukan tangan mereka begitu kasar. Tumpukan cucian dan setumpuk pekerjaan rumah tangga lainnya telah merusak keindahan tangan itu.
Kita bisa menemukan sorga itu tidak lagi seindah ketika pertama kali mendatanginya. Buah hati yang kita miliki tidak datang diantar bangau, seperti cerita kita dengar diamasa kecil kita. Buah hati kita datang dengan berbagai kerusakan dan pertaruhan.
Payudara indah yang telah menghidupi anak-anak tidak sekencang dan seindah ketika pertama kali kita menyentuhnya. Selain gravitasi dan umur, anak-anak telah memberi andil besar dalam penurunan dan berkurang kekencangannya.
Banyak hal telah kalian pertaruhkan untuk menjadi seorang istri dan seorang Ibu. Banyak hal telah kalian korbankan untuk menjadi seorang istri dan Ibu bagi kami.
Terima kasih atas segala hal yang telah kalian lakukan kepada kami. dan kami sangat hormati atas kedua keputusan besar yang telah kalian lakukan.
Kami sangat menghargainya.
Kalau ada lelaki memandangmu buruk karena tubuhmu tidak seindah dulu. Mintalah padanya untuk menghormati setiap pengorbanan yang telah kalian lakukan.
Kalau hal itu juga tidak dia berikan, yakinlah lelaki itu tidak baik untuk suami dan ayah bagi anak-anakmu.
Dari lubuk hati terdalam..... Terima kasih.... telah menjadi seorang istri dan Ibu bagi kami.
Monday, February 16, 2015
Cinta Sejati Tidak Harus Memiliki
Mencintai dan memiliki adalah hal berbeda.
Mencintai berarti kamu ingin orang yang kamu cintai berbahagia.
Tidak ada yang perlu dikorbankan, karena cinta tidak memerlukan pengorbanan.
Segala hal yang kita lakukan, hanya untuk membahagiakan orang yang kita cintai.

Dream of Me.
It's hard to be away from the one you love
And the day seemed slowly drifting by
But my darling
I'd be home in your arms were I belong
So I'm sending you this poem from my heart
Refrйn:
Dream of me when you're lonely
Dream of me when you're sad
'Cause darling I want you only
You're the nicest, nicest love I've ever had
Although we are many, many miles apart
You are always in my aching heart
But my darling
I'd be home in your arm were I belong
So I'm sending you this poem from my heart
Refrйn
Dream of me when you're lonely
Dream of me when you're sad
'Cause darling I want you only
You're the nicest, nicest love I've ever had
So dream of me when you're lonely
Dream of me when you're sad
'Cause darling I want you only
You're the nicest, nicest love I've ever had
You're the nicest, nicest love I've ever had
So dream of me
https://www.youtube.com/watch?v=7MsQHAsgcnE
Aku pertama kali bertemu dengannya dalam suatu persoalan.
Kata-kata keras terlontar dari lembut bibirnya. Aku terkejut dan kutunjukan rasa tidak senang.
Kubantah dalam argumen yang kupahami dengan baik dan benar.
Tapi kecerdasan dan kepiawaiannya menggunakan kata mendesaku.
Kami akhiri pembicaraan dengan kegondokan luar biasa dalam dadaku.
Waktu berlalu dan kami sering bertemu.
Kami berdiskusi banyak hal. Dari soal agama, mengurus dan membesarkan anak.
Pandangan ekonomi, perilaku sosial dan banyak persoalan lain.
Dia begitu tertib dan teratur dalam banyak hal. Berdisiplin dan bekerja keras. Menyelesakan masalah dengan kearifan dan kesabaran.
Kami dua manusia berbeda. Tapi kita berbicara panjang lebar tentang dunia dan itu semua begitu menyenangakan untuk dikenang.
Dia begitu menjunjung tinggi kehormatan dan kesopanan. Tutur katanya mesti tajam selalu dalam batas kesopanan dan kepatutan.
Tubuh kecil dengan ketegasan seorang manager begitu ketara.
Meski terkadang dia pusing dengan seribu perkara, namun semua selalu dapat diselesaikan.
Pelajaran beharaga yang paling utama aku peroleh adalah ketika suaminya berselingkuh.
"Biarlah... Aku sibuk mengurus anak dan dia sibuk berselingkuh. Suamiku tidak mature sama sekali. Cara pandang kami tentang dunia sudah berbeda. Aku tidak marah dan tidak akan menangis untuk hal ini. Aku hanya berpikir kami telah memilih jalan berbeda.
Tidak perlu marah, tidak perlu sakit hati. Kami hanya memilih hal berbeda dan perpisahan sudah semestinya terjadi."
Hari ini dia mengajaku bertemu dan dia berbicara tentang rencana pernikahan.
Aku terkejut dan dapat memahaminya.
Dalam pikiran egoisku... "Lalu aku kehilangan teman asyik berdiskusiku".
Dalam pikiran bijakku akhirnya kukatakan... "Good... akhirnya kamu menemukan hal terbaik bagimu".
Aku ikut berbahagia ... Aku akan kehilangan teman bediskusi yang menyenangkan sepertimu.
Teman berdebat yang tidak pernah mundur dari keyakinan.
Aku sangat hormat dan kagum padamu.
Aku akan kehilangan suasana ketika anakmu merajuk didepan umum dan kamu kehabisan kata-kata untuk meredamnya.
Aku akan kehilangan teman berdiskusi tentang film yang kita tonton.
Aku akan kehilangan banyak hal darimu.
Tapi aku mendapatkan kebahagiaan dari keberhasilanmu mendapatkan belahan jiwamu.
Semoga keinginanmu bertemu seseorang yang bisa menemani di hari tuamu terkabul.
Semoga keluargamu bisa solid, bekerja sama meraih kebahagiaan keluarga.
Selamat berjuang Bu.... Doaku menyertaimu.
Mencintai berarti kamu ingin orang yang kamu cintai berbahagia.
Tidak ada yang perlu dikorbankan, karena cinta tidak memerlukan pengorbanan.
Segala hal yang kita lakukan, hanya untuk membahagiakan orang yang kita cintai.
Dream of Me.
It's hard to be away from the one you love
And the day seemed slowly drifting by
But my darling
I'd be home in your arms were I belong
So I'm sending you this poem from my heart
Refrйn:
Dream of me when you're lonely
Dream of me when you're sad
'Cause darling I want you only
You're the nicest, nicest love I've ever had
Although we are many, many miles apart
You are always in my aching heart
But my darling
I'd be home in your arm were I belong
So I'm sending you this poem from my heart
Refrйn
Dream of me when you're lonely
Dream of me when you're sad
'Cause darling I want you only
You're the nicest, nicest love I've ever had
So dream of me when you're lonely
Dream of me when you're sad
'Cause darling I want you only
You're the nicest, nicest love I've ever had
You're the nicest, nicest love I've ever had
So dream of me
https://www.youtube.com/watch?v=7MsQHAsgcnE
Aku pertama kali bertemu dengannya dalam suatu persoalan.
Kata-kata keras terlontar dari lembut bibirnya. Aku terkejut dan kutunjukan rasa tidak senang.
Kubantah dalam argumen yang kupahami dengan baik dan benar.
Tapi kecerdasan dan kepiawaiannya menggunakan kata mendesaku.
Kami akhiri pembicaraan dengan kegondokan luar biasa dalam dadaku.
Waktu berlalu dan kami sering bertemu.
Kami berdiskusi banyak hal. Dari soal agama, mengurus dan membesarkan anak.
Pandangan ekonomi, perilaku sosial dan banyak persoalan lain.
Dia begitu tertib dan teratur dalam banyak hal. Berdisiplin dan bekerja keras. Menyelesakan masalah dengan kearifan dan kesabaran.
Kami dua manusia berbeda. Tapi kita berbicara panjang lebar tentang dunia dan itu semua begitu menyenangakan untuk dikenang.
Dia begitu menjunjung tinggi kehormatan dan kesopanan. Tutur katanya mesti tajam selalu dalam batas kesopanan dan kepatutan.
Tubuh kecil dengan ketegasan seorang manager begitu ketara.
Meski terkadang dia pusing dengan seribu perkara, namun semua selalu dapat diselesaikan.
Pelajaran beharaga yang paling utama aku peroleh adalah ketika suaminya berselingkuh.
"Biarlah... Aku sibuk mengurus anak dan dia sibuk berselingkuh. Suamiku tidak mature sama sekali. Cara pandang kami tentang dunia sudah berbeda. Aku tidak marah dan tidak akan menangis untuk hal ini. Aku hanya berpikir kami telah memilih jalan berbeda.
Tidak perlu marah, tidak perlu sakit hati. Kami hanya memilih hal berbeda dan perpisahan sudah semestinya terjadi."
Hari ini dia mengajaku bertemu dan dia berbicara tentang rencana pernikahan.
Aku terkejut dan dapat memahaminya.
Dalam pikiran egoisku... "Lalu aku kehilangan teman asyik berdiskusiku".
Dalam pikiran bijakku akhirnya kukatakan... "Good... akhirnya kamu menemukan hal terbaik bagimu".
Aku ikut berbahagia ... Aku akan kehilangan teman bediskusi yang menyenangkan sepertimu.
Teman berdebat yang tidak pernah mundur dari keyakinan.
Aku sangat hormat dan kagum padamu.
Aku akan kehilangan suasana ketika anakmu merajuk didepan umum dan kamu kehabisan kata-kata untuk meredamnya.
Aku akan kehilangan teman berdiskusi tentang film yang kita tonton.
Aku akan kehilangan banyak hal darimu.
Tapi aku mendapatkan kebahagiaan dari keberhasilanmu mendapatkan belahan jiwamu.
Semoga keinginanmu bertemu seseorang yang bisa menemani di hari tuamu terkabul.
Semoga keluargamu bisa solid, bekerja sama meraih kebahagiaan keluarga.
Selamat berjuang Bu.... Doaku menyertaimu.
Sunday, February 15, 2015
Penolong Bagimu 1
Ketika kamu jatuh kedalam jurang, raihlah apa saja yang bisa kamu pegang.
Mungkin itu akar rapuh atau belukar kecil di dinding jurang.
Mungkin itu tidak bertahan lama menahan tubuhmu tapi paling tidak bisa memperlambat jatuhmu.
Memberi kesempatan bagimu untuk memilih sebatang pohon atau tonjolan batu didinding jurang.

Dikisahkan seseorang yang hidupnya lurus dan dekat dengan Tuhan, tinggal disebuah desa. Begitu dekat dirinya dengan Tuhan semua permohonan dalam doanya selalu tekabul. Orang tersebut bernama Soleh.
Suatu hari, hujan deras mengguyur desa itu semalaman, pagi hari desa tempat Soleh terkena banjir.
Pagi itu air mulai naik dari satu mata kaki akhirnya setinggi lutut.
Siang itu ketika air setinggi lutut para tetangga datang untuk mengajaknya mengungsi. "Ayo Pak Soleh kita pergi mengungsi ketempat lebih tinggi" ajak beberapa tetangga kepada Pak Soleh.
"Aku akan tinggal di rumah saja dan berdoa mohon pertolongan Tuhan" jawab Pak Soleh mantab.
Para tetangga pergi meninggalkan Pak Soleh dirumahnya.
Hujan deras tidak kunjung berhenti.
Sekitar jam 3 sore, air mulai naik setinggi pinggang orang dewasa, Pak Soleh dan keluarganya akhirnya memutuskan untuk naik keatas genting.
Sekitar jam 6 sore, beberapa anggota tim SAR datang kerumah Pak Soleh dengan perahu dan mengajak keluarga Pak Soleh untuk mengungsi. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Pak Soleh sekeluarga memutuskan untuk tetap tinggal di atap rumah mereka.
"Aku akan tinggal di rumah saja dan berdoa mohon pertolongan Tuhan, saat ini hujan tidak sederas semalam. Kukira sebentar lagi air akan surut" jawab Pak Soleh pada team SAR.
Sekitar jam 9 malam datang Pak Lurah dan beberapa polisi untuk mengevakuasi Pak Soleh, Tetapi kali ini Pak oleh tetap menolak untuk dievakuasi.
Hujan di desa itu memang mulai reda. Tetapi hujan di gunung turun dengan derasnya.
Sekitar jam 3 pagi Pak Soleh dan sekeluarga tengggelam dan semuanya tidak selamat.
Di akherat Pak Soleh protes pada Tuhan. "Tuhan kenapa Engkau tidak menolong aku dan keluargaku? Aku selalu menjalankan perintahmu dan menjauhi segala laranganMu".
Tuhan menjawab "Pak Soleh, aku sudah berusaha keras menolongmu"Pertama, ketika para tetanggamu sibuk mengungsi dan kebingungan, mereka masih kuingatkan untuk mengajakmu serta.
Kedua, ketika tim SAR sedang sibuk didaerah lain, mereka kuminta datang kedesamu untuk menyelamatkanmu.
Ketiga, ketika Pak Lurah sedang sibuk mengurus para pengungsi dan menolong orang lain, kuminta dia mendatangimu dan mengajakmu pergi ketempat aman.
Sekarang kamu bertanya padaku, kenapa aku tidak menolongmu."
Moral cerita.
Kesulitan selalu datang, kita selalu diberikan penolong oleh Tuhan kehadapan kita. Kesalahan terbesar kita adalah tidak mau menerima pertolongan dari Tuhan untuk kita.
Ketika kita jatuh, kita malahan menyalahkan Tuhan dan orang lain atas kejatuhan itu.
Mungkin itu akar rapuh atau belukar kecil di dinding jurang.
Mungkin itu tidak bertahan lama menahan tubuhmu tapi paling tidak bisa memperlambat jatuhmu.
Memberi kesempatan bagimu untuk memilih sebatang pohon atau tonjolan batu didinding jurang.
Dikisahkan seseorang yang hidupnya lurus dan dekat dengan Tuhan, tinggal disebuah desa. Begitu dekat dirinya dengan Tuhan semua permohonan dalam doanya selalu tekabul. Orang tersebut bernama Soleh.
Suatu hari, hujan deras mengguyur desa itu semalaman, pagi hari desa tempat Soleh terkena banjir.
Pagi itu air mulai naik dari satu mata kaki akhirnya setinggi lutut.
Siang itu ketika air setinggi lutut para tetangga datang untuk mengajaknya mengungsi. "Ayo Pak Soleh kita pergi mengungsi ketempat lebih tinggi" ajak beberapa tetangga kepada Pak Soleh.
"Aku akan tinggal di rumah saja dan berdoa mohon pertolongan Tuhan" jawab Pak Soleh mantab.
Para tetangga pergi meninggalkan Pak Soleh dirumahnya.
Hujan deras tidak kunjung berhenti.
Sekitar jam 3 sore, air mulai naik setinggi pinggang orang dewasa, Pak Soleh dan keluarganya akhirnya memutuskan untuk naik keatas genting.
Sekitar jam 6 sore, beberapa anggota tim SAR datang kerumah Pak Soleh dengan perahu dan mengajak keluarga Pak Soleh untuk mengungsi. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Pak Soleh sekeluarga memutuskan untuk tetap tinggal di atap rumah mereka.
"Aku akan tinggal di rumah saja dan berdoa mohon pertolongan Tuhan, saat ini hujan tidak sederas semalam. Kukira sebentar lagi air akan surut" jawab Pak Soleh pada team SAR.
Sekitar jam 9 malam datang Pak Lurah dan beberapa polisi untuk mengevakuasi Pak Soleh, Tetapi kali ini Pak oleh tetap menolak untuk dievakuasi.
Hujan di desa itu memang mulai reda. Tetapi hujan di gunung turun dengan derasnya.
Sekitar jam 3 pagi Pak Soleh dan sekeluarga tengggelam dan semuanya tidak selamat.
Di akherat Pak Soleh protes pada Tuhan. "Tuhan kenapa Engkau tidak menolong aku dan keluargaku? Aku selalu menjalankan perintahmu dan menjauhi segala laranganMu".
Tuhan menjawab "Pak Soleh, aku sudah berusaha keras menolongmu"Pertama, ketika para tetanggamu sibuk mengungsi dan kebingungan, mereka masih kuingatkan untuk mengajakmu serta.
Kedua, ketika tim SAR sedang sibuk didaerah lain, mereka kuminta datang kedesamu untuk menyelamatkanmu.
Ketiga, ketika Pak Lurah sedang sibuk mengurus para pengungsi dan menolong orang lain, kuminta dia mendatangimu dan mengajakmu pergi ketempat aman.
Sekarang kamu bertanya padaku, kenapa aku tidak menolongmu."
Moral cerita.
Kesulitan selalu datang, kita selalu diberikan penolong oleh Tuhan kehadapan kita. Kesalahan terbesar kita adalah tidak mau menerima pertolongan dari Tuhan untuk kita.
Ketika kita jatuh, kita malahan menyalahkan Tuhan dan orang lain atas kejatuhan itu.
Saturday, January 31, 2015
Sayap-sayap Belas Kasih
Kita bekerja keras untuk mendapatkan banyak rejeki. Kita beli rumah, mobil dan sesekali pergi ke rumah makan mewah. Kita masukan anak-anak kesekolah mahal. Akhirnya ketika semua gagal membahagiakan keluarga kita. Ketika senja menjelang kita sadari mereka tidak membutuhkan semua itu. Mereka hanya butuh kebersamaan.

Jika belas kasih dibayangkan sebagai seekor merpati yang anggun, kebijaksanaan adalah bagaikan sayap-sayapnya. Belas kasih tanpa kebijaksanaan tak akan dapat tinggal landas.
Suatu hari, seorang anggota pramuka ingin menunjukkan perbuatan baiknya pada hari itu dengan membantu menyeberangkan seorang nenek di jalanan yang ramai. Masalahnya, si nenek sebenarnya tak ingin menyeberang, tetapi dia merasa sungkan memberitahukan hal itu kepada si anak pramuka.
Cerita tersebut, sayangnya, menggambarkan ada terlalu banyak hal yang terjadi di dunia atas nama belas kasih. Kita kelewat sering mengira bahwa kita tahu apa yang dibutuhkan oleh orang lain.
Seorang pemuda, yang terlahir tuli, tengah mengunjungi dokter untuk pemeriksaan rutin dengan ditemani oleh kedua orang tuanya. Dengan bersemangat sang dokter memberitahu orang tua si pemuda mengenai suatu prosedur pengobatan terbaru yang baru-baru ini dibacanya dari sebuah jurnal kedokteran. Sepuluh persen dari orang-orang yang terlahir tuli dapat dipulihkan kembali pendengarannya melalui sebuah operasi sederhana dan tidak mahal. Sang dokter bertanya kepada orang tua si pemuda apakah mereka ingin mencobanya. Orang tua si pemuda dengan segera mengiyakan.
Pemuda itu adalah salah satu dari sepuluh persen orang-orang tuli yang dapat dipulihkan kembali pendengarannya, namun dia malah menjadi sangat marah dan jengkel kepada kedua orang tua dan dokternya. Dia tidak mengetahui apa yang mereka rembukkan saat pemeriksaan rutinnya. Tak seorang pun yang menanyakan kepadanya apakah dia ingin bisa mendengar. Sekarang dia mengeluh karena dia harus menahan siksaan suara-suara ribut yang terus menerus, yang mana hanya sedikit saja yang dia pahami. Sebenarnya dia memang tidak pernah ingin dipulihkan pendengarannya.
Kedua orang tuanya, dokter, dan saya sendiri, sebelum membaca cerita ini, beranggapan bahwa setiap orang pasti ingin dapat mendengar. Kita pikir kita selalu tahu apa yang terbaik. Belas kasih yang mengandung asumsi seperti itu sungguh tolol dan berbahaya. Itu menyebabkan begitu banyak penderitaan di dunia.
***
Sumber: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Ajahn Brahm) cerita 59.
Sumber: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Ajahn Brahm) cerita 59.
Tuesday, January 27, 2015
Saturday, January 24, 2015
JAKET LUSUHKU
Buang saja dan hiduplah dalam kemuliaan.
Aku memiliki suatu hoby unik, duduk di pinggir trotoar sambil merokok. Menghitung mobil dari kanan atau kiri atau sekedar menikmati suasana.
Hobby ini menurut beberapa orang kurang baik. Seorang atasanku pernah menegurku soal masalah ini.
Suatu hari sehabis makan malam dirumah makan kelas atas di Jakarta untuk suatu acara kantor. Sambil menunggu yang lain selesai, aku duduk di trotoar sambil merokok. Tiba-tiba datang direkturku dan menegurku.
Aku kurang ingat redaksinya tapi kira-kira seperti ini "Kamu itu seorang manager, berbuat dan bersikaplah seperti layaknya seorang manager." Aku segera berdiri tanpa membantah pernyataan atasanku.
Ketika teguran itu diberikan, aku tidak sepenuhnya sadar kesalahanku. Beberapa tahun kemudian baru aku menyadari memang aku salah. Tidak semestinya berlaku seperti itu.
Bakat dari kecil
Gedenya
Aku kehilangan duah buah jaket coklat. Setelah mencari kesana kemari, istri bilang bahwa jaket itu telah dia buang.
Aku sedih sekali mendengar informasi itu.
Meskipun sudah lusuh, kumal dan ada banyak tambalan disana sini, aku amat menyukainya. Dengan jaket itu aku merasa nyaman. Melakukan hobyku duduk di pinggir trotoar sambil merokok atau sekedar nongkrong dengan tukang parkir atau gembel manapun. Dengan jaket itu aku merasa dijembatani. Merasa bisa diterima.
Dalam kesedihan itu istriku mendekatiku dan menasehatiku, sebuah nasehat yang pernah kuberikan padanya. Meski nasehat itu dulu kuberikan sifatnya perumpamaan, kali ini nasehat ini diberikan dalam kaitan realita jaketku yang telah dia buang.
Nasehatnya kira-kira seperti ini :
Seorang pengemis tinggal dekat istana raja. Suatu hari, ia melihat pengumuman dipasang di luar gerbang istana. Raja mengadakan suatu perjamuan besar. Siapa saja yang berpakaian kerajaan diundang ikut serta dalam perjamuan.
Si pengemis pergi dengan sedih. Ia memandang baju compang-camping yang dikenakannya dan mendesah. Tentu saja hanya para raja dan keluarga kerajaan yang mengenakan jubah kerajaan, begitu pikirnya. Sekonyong-konyong suatu ide muncul di benaknya. Memikirkannya saja telah membuat tubuhnya gemetar. Beranikah ia?
Si pengemis kembali ke istana. Ia menghampiri penjaga gerbang istana.
“Tolong saya, pak, saya mohon bicara dengan Sri Baginda.”
“Tunggulah di sini,” jawab penjaga.
Beberapa menit kemudian ia telah kembali. “Sri Baginda berkenan menemuimu,” demikian katanya, lalu menghantar si pengemis masuk.
“Kamu ingin menemuiku?” tanya raja.
“Ya, Tuanku raja. Hamba begitu ingin ikut serta dalam perjamuan yang Tuanku selenggarakan, tetapi hamba tidak memiliki jubah kerajaan untuk dikenakan pada perjamuan tersebut. Sudilah Tuanku, maafkan kelancangan hamba, sudilah Tuanku memberikan kepada hamba salah satu jubah usang Tuanku, sehingga hamba dapat datang ke perjamuan.”
Tubuh sang pengemis bergetar begitu hebat hingga ia tak sempat melihat sekilas senyum di wajah sang raja. “Engkau sungguh bijaksana datang kepadaku,” kata raja.
Raja memanggil putranya, sang pangeran. “Ajaklah ia ke kamarmu dan berilah ia pakaian dari pakaianmu.”
Pangeran melakukan apa yang diperintahkan ayahnya dan segera saja sang pengemis telah berdiri di depan sebuah cermin, mengenakan jubah yang tak berani ia berharap untuk memilikinya. “Sekarang engkau layak ikut ambil bagian dalam perjamuan raja esok malam,” kata pangeran. “Tetapi, yang lebih penting dari itu, engkau tidak akan pernah memerlukan baju lagi. Jubah yang engkau kenakan itu akan tahan untuk selamanya. Sang pengemis jatuh tersungkur, “Oh, terima kasih,” serunya.
Tetapi, sementara ia pergi meninggalkan kamar, terlihat olehnya tumpukan baju dekilnya di atas lantai. Ia ragu-ragu. Bagaimana jika yang dikatakan pangeran itu tidak benar? Bagaimana jika ia membutuhkan baju lamanya lagi? Segera dipungutnya baju compang-campingnya.
Perjamuan itu jauh lebih mengagumkan daripada yang dapat dibayangkannya. Namun demikian, ia tak dapat menikmati perjamuan seperti seharusnya. Ia telah menggulung baju compang-campingnya menjadi suatu buntalan, dan buntalan itu berkali-kali jatuh dari pangkuannya. Hidangan berlalu cepat dan sebagian hidangan paling lezat itu terlewatkan olehnya.
Waktu membuktikan bahwa pangeran benar. Jubah pemberian pangeran tahan untuk selamanya. Tetapi, tetap saja pengemis yang malang itu merasa sayang untuk membuang baju compang-campingnya. Dengan berlalunya waktu, orang mulai lupa akan jubah kerajaan yang dikenakannya. Mereka hanya melihat buntalan baju compang-camping yang ia bawa kemanapun ia pergi. Mereka bahkan menyebutnya sebagai pak tua dengan baju compang-camping.
Suatu hari, sementara ia terbaring mendekati ajal, raja mengunjungi Si pengemis. Melihat wajah sedih raja ketika raja melihat buntalan dekil baju compang-camping di sisi pembaringannya. Tiba-tiba teringatlah sang pengemis akan ucapan pangeran dan ia menjadi sadar bahwa buntalan dekil itu telah membuatnya kehilangan kesempatan menikmati kerajaannya yang sebenarnya sepanjang hidupnya. Ia pun menangis pilu mengingat kebodohannya.
Moral cerita.
Sering kita membawa masa lalu kedalam kehidupan saat ini yang sesungguhnya tidak diperlukan.
Mungkin kita masih menjalin kontak dengan mantan pacar kita, mungkin kita masih trauma dengan kegagalan kita, mungkin kita terbebani oleh persoalan lama yang tidak terselesaikan atau mungkin hal-hal lain.
Yang seseungguhnya saat ini kita sudah mendapatkan pengganti lebih bagus lebih baik.
Untuk apa memakai baju butut itu? Berikan saja kepada mereka yang lebih layak menerimnya. Baju itu akan menjadi berkat baginya dan menjadi masalah bagimu.
Untuk apa menjalin hubungan dengan mantan pacar kita? Biarkan saja suaminya mengurusnya. Suaminya akan menghandelnya lebih baik.
Untuk apa bergelut dengan prospek gagal kita dimasa lalu? Biarkan saja orang lain mengambilnya, mereka lebih layak dan mungkin lebih baik menjalankan prospek itu.
Selamat tinggal jaket lusuhku.
Aku masih merindukanmu.
Selamart tinggal masa lalu kelabu.
Aku sudah merelakanmu.
Friday, January 2, 2015
17 Tahun Merenda Kasih
Saya berjanji mencintai dan menghormatimu, dalam untung dan malang sampai kematian memisahkan kita.
Ketika akan menikah saya ditanya, "Kenapa menikahi Lilik?"
"Karena saya mencintainya." jawabku singkat.
mungkin jawaban diatas tidak tepat, tapi pada saat itu jawabanku seperti itu. Pengertianku seperti itu.
Apakah setiap cinta harus selalu diakhiri dengan pernikahan? Apa beda cinta dan senang?
Kukira, andai banyak pertanyaan itu diajukan kepadaku akan sulit kujawab.
Aku mendifinisikan cinta adalah "ketika kita selalu ingin bertemu dengan seseorang"... itulah cinta. Definisi singkat dan praktis. Mungkin juga tidak benar tapi aku menyukai definisi itu.
Sesekali istri bertanya kepadaku, "Kalau aku meninggal kamu akan kawin lagi?"
Kujawab tegas "tidak."
"Kenapa?"
"Aku sangat menyukai kebebasanku, terlalu banyak hal kukorbankan untuk menjalani pernikahan."
Begitu pernah kujawab dan kujelaskan.
Tapi bila hari ini istri bertanya akan kujawab "Tidak.... Aku tidak bisa mencintai orang lain selain dirimu."
Waktu berlalu setelah 17 tahun menjalani pernikahan. Banyak suka duka aku lalui. Ada kejatuhan ada kebangkitan.
Banyak kejadian membuatku semakin yakin bahwa istriku adalah belahan jiwaku. Hidup dan kehidupanku. kulihat dia begitu setia mendampingi ketika kesulitan datang. Kulihat bagaimana dia merawatku ketika aku sakit. Kulihat bagaimana dia menyiapkan baju untukku. Kulihat bagaiman dia melayani dengan iklas.
Aku orang sederhana. Berharap pada hal-hal sederhana dan hal itu kudapatkan pada diri Lilik. Lilik memenuhi kebutuhanku secara sederhana dan akupun tidak berharap sesuatu yang luar biasa dari istriku.
Penikahan kami menghasilkan sebuah keluarga. Banyak hal kulakukan dan mengorbankan keluargaku. Tapi setelah 17 tahun menikah akau berjanji kepada istriku. Tidak ada teman, hoby atau pekerjaan yang akan menjadikan keluargaku nomer dua dalam prioritas hidupku. Istriku dan keluargaku akan menjadi prioritas utama dalam setiap pertimbangan.
Demikian janjiku kepada istriku dan kuhara aku bisa mmemenuhi janji itu. Tapi kuharap jika dibelakang hari aku punya masalah dan marah-marah di rumah, kuharap istri dan keluargaku akan memahami.... Aku akan berusaha yang terbaik menjadi suami dan ayah yang baik.
Pandu dan Coco adalah buah cinta kasih kami. Aku memiliki dua anak yang berbeda. Secara fisik dan kemampuan. Tapi keduanya begitu indah.
Kedua anak kami memiliki karakter yang benar-benar berbeda. Yang satu sangat senang belajar dan yang lain tidak suka pelajaran sekolah. Keduanya bandel dan suka bersengkongkol untuk sesuatu yang kekanakan seperti main sampai larut.Tapi aku bangga dengan mereka berdua.
Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Kalau ada kesalahan besar aku sebagai seorang ayah, adalah aku tidak secara penuh mendampingi mereka. Hanya ketika berkumpul, aku ingin dihadapan merekaa ketika mereka membuka matanya dipagi hari sampai malam ketika mereka tertidur, aku mendampingi mereka.
Kugunakan waktu liburku seefektive mungkin mendampingi keluargaku.
Bahkan sampai hari ini kkami sering tidur berempat. Kalau pergi keluar kota dan harus menyewa hotel, kamipun memilih untuk satu kamar. Berdesakan tapi akrab.
Tahun 2014 hal yang berubah Pandu kini lebih tinggi dariku. Coco sudah keterima di SMA Loyola Semarang. Kami pindah rumah. Istri belum juga hamil.
Kami merayakan ulang tahun perkawinan ke 17. Sekalian acara syukuran rumah.
Acaranya sederhana, cuma orgen tunggal, bakar ikan dan makan tentu saja.
Sebuah lagu untuk suami tercinta... Kok "sewu kuto".... Ndak nyambung khan.
Ibu dan mas Pomo menyumbangkan lagu.
Pandu dan Nia... Kini sudah menjadi remaja. Keduanya suaranya bagus. "Jangan menyerah"
Ibu dokter menyumbang lagu juga.
Tamunya terlalu banyak. untung datangnya tidak serentak. Syukur semua lancar.
Subscribe to:
Posts (Atom)
HARUS KUAT
Kalian harus kuat. Agar kamu bisa menolong dirimu sendiri. Membantu orang lain yang membutuhkan. Hiduplah sederhana karena kalian memil...
-
Buang saja dan hiduplah dalam kemuliaan. Aku memiliki suatu hoby unik, duduk di pinggir trotoar sambil merokok. Menghitung mobil dari kan...
-
Selalu kurindukan datang di tempat indah itu. Penuh kehangatan dalam dinginnya. Penuh keharuman dalam semaknya. Selalu ingin kembali ...
