Thursday, December 11, 2014

PERJUMPAAN

Sebuah cerita untukmu tentang sebuah expedisi yang gagal.

Waktu itu sekitar tahun 1991, aku tidak ingat persis kapan itu, termasuk tahun kejadian. Kenapa aku tidak mampu mengingat, semata karena aku memang ingin melupakan. Menganggap cerita itu tidak pernah terjadi karena mungkin cerita ini salah atau memang tidak terjadi.
Atau aku memang tidak pernah berminat menceritakan cerita ini. Biarlah kami saja menyimpan cerita ini. Kalau engkau membaca cerita ini, hal yang harus kamu pahami bahwa ini memang sebuah cerita. Sebuah cerita bukan sebuah fakta. Sebuah cerita untuk mempercayai bahwa keajaiban atau keslahan selalu ada. Bukan keajaiban, mungkin hanya sekedar kesalahan penafsiran.
Seperti kukatakan dimuka, aku tidak ingat persis waktu kejadiannya. Yang aku tahu persis waktu itu musim hujan dan memang ketika peristiwa itu terjadi hujan menjadi keseharian cerita ini.

Petualangan menjadi salah satu bagian dari kehidupanku.
Keluar masuk hutan. naik turun gunung. Mengunjungi tempat menarik.
Kadang aku mengunjungi tempat-tempat angker hanya untuk membuktikan keangkerannya.
Aku pernah sampai gua Langse di tahun 1985, Gunung Slamet, ada sebuah daerah yang dilarang untuk dikunjungi, sebuah daerah dimana katanya orang tidak boleh kesana aku pernah mengunjungi. Pernah sampai gunung Srandil, Kemukus dan sebagainya.
Bahkan ketika naik gunung Lawu. Selain perjalanan ke puncak, ku selingi untuk menjelajahi tempat-tempat yang mestinya tidak dikujungi orang. Berbicara dengan para pertapa atau para penjelajah rohani. Berbicara pada mereka kita menjadi lebih mengerti, bagaiman dunia telah berjalan dan bagaimana mengahadapi dunia dengan lebih baik.
Apakah aku percaya mistik? Banyak hal terjadi selama perjalananku dan banyak hal tidak bisa kujelaskan. Secara keilmuanku ataupun religiku. Atau memang ilmu dan religiku masih jauh dari cukup untuk memahami.
Bagiku perjalanan ketempat yang kata mereka angker seperti menaikan andrenelinku. Meng explore rasa ingin tahuku. Jadi kukira bukan soal percaya atau tidak percaya.

Sebuah rencana perjalanan menuju puncak Semeru dengan cara membuka rute baru. Lewat rute yang bukan jalur pendakian.
Dampit nembak kearah 30 derajat (Utara timur laut) dengan tujuan Ranu Kumbolo, menuju ke Arca Pada, naik kepuncak dan kembali lewat jalur pendakian biasa, lewat Ranu Pane.
Rombongan kami melakukan perjalanan dengan kereta menuju malang. Cari transport ke Dampit menginap semalam. membeli beberapa perbekalan dan mulai mendaki. Tahap awal yang harus kami lakukan adalah menentukan titik awal pendakian, sesuai dengan rencana gambar peta topografi yang kami bawa.

Hari itu udara cerah ketika kita mencari titik awal pendakian. Sang Mahameru terlihat sangat gagah dai posisi kami berdiri.
Aku dengan kompas dan peta yang kuletakan diatas rumput, menentukan titik awal posisi kami.
Beberapa orang sibuk mendirikan tenda sementara yang lain mencari kayu bakar untuk kehangatan malam ini.
Sore menjelang dan tenda telah disiapkan.
Ada dua tenda kami dirikan. Menjelang malam sambil mengelilingi api unggun, kami makan dan berbicara kesana kemari tanpa ujung pangkal.
Kopi dan teh panas menemani kecerian malam. Bintang di langit begitu indah. Sang Bima Sakti terlihat ramah menyapa malam kami.
Sesekali kami saling ejek, sesekali pula kami berbagi pengalaman.
Malam semakin larut dan satu persatu kami mulai masuk dalam tenda untuk istirahat.

Air menetes di mukaku, membangunkanku dan kulirik jam tanganku dan kulihat sudah jam enam pagi. Hujan diluar tenda, terdengar air menetes menyentuh tenda menciptakan irama yang indah.
Dengan menggeliat malas kulihat teman setandaku sudah bangun, mereka sedang mengemas perlengkapan.
Setelah mengumpulkan kesadaran aku segera melipat sleeping bag ku.
"Jam berapa hujan mulai?" tanyakau kepada rekan setendaku.
"Aku solat subuh tadi hujan sudah turun, lebih lebat dari sekarang" salah seorang rekanku menyahut.
Kukenakan ponco untuk menghadapi hujan dan aku keluar mengecek tenda sebelah.
Ditenda sebelah kulihat mereka sedang sarapan ala kadarnya.
"Selesaikan makan dan bongkar tenda, setelah kalian siap kita jalan jam tujuh" aku memberi perintah singkat.

Setelah siap, sekitar jam tujuh kami mulai berjalan mendaki.
Air hujan turun semakin deras, seperti mau menguji kekuatan ponco yang kukenakan.
Jalanan menjadi licin. Golok tebas bekerja tidak optimal dikarenakan air membuat licin pegangan golok.
Sesekali petir menyambar dengan keras. Mencoba menciutkan hati kami tapi kami terus berjalan.
Sesekali ada semak dan tanah kosong shingga kami tidak perlu melakukan penebasan. Dengan memegang kompas seorang rekan mengarahkan jalan yang harus kami tempuh.
"Sebaiknya kekiri sedikit, disitu semak tidak terlalu lebat. Nanti setelah lewat semak itu ada pohon besar itu kita kekanan..." petunjuk arah pergerakan. Melambung, menghindari semak,
Sesekali kami terpleset dan bangun lagi. Pergerakan hari tu begitu lambat.
Udara dingin dan jalanan licin menjadi hambatan tersendiri.

Sekitar jam 12 rombongan kuminta istirahat makan. Hujan masih belum berhenti dikala kami makan siang.
Kami duduk dibawah pohon bergerombol, menikmati biskuit yang kami bawa.
"Selesaiakan makan kalian, jam 1230 kita jalan lagi. jam empat kita dirikan tenda untuk istirahat malam" teriakku kepada semua orang mencoba mengalahkan suara hujan

Selepas makan siang, kami melanjutkan kembali perjalanan. Hujan turun semakin deras. Angin berhembus tidak terlalu kencang, membawa udara dingin menyelinap kedalam ponco kami.
Sesekali kujilati air hujan yang mengalir di wajahku untuk mengurangi dahaga. Rasanya repot kalau harus berjenti dan mengambil tempat air di carier,
Rombongan berjalan lambat dikarenakan medan semakin curam.
Kukeluarkan webing dan menyambungnya, agar kami bisa saling bantu untuk melewati tanjakan tanah yang licin ini.
Tumpukan humus kadang begitu tebal sehingga menambah berat jalan yang harus kulalui.
Sekitar jam setengah empat sore kulihat tempat datar dan kuputuskan untuk mendirikan tenda.

Tenda didirikan dengan cepat. Kami bergerak cepat untuk mengurangi dingin gunung sore itu. Beberapa orang kulihat mendirikan ponco bivouac dan memasak makanan dibawahnya.
Sekitar jam lima makanan siap. Kami mulai makan dalam perlindungan bivouac yang telah disiapkan.
Tidak banyak kata kami ucapkan disaat makan kali ini. Teh panas kuseruput untuk mengurangi dinginnya sore itu.
Kunyalakan sebatang rokok dan mencoba menyamankan dudukku.
"Ada yang sakit?" teriakku pada rombongan.
Tidak ada yang menyahut, dengan setengah berteriak untuk mengalahkan suara hujan kuberteriak lagi "Good... kita tidur cepat malam ini. Bangun pagi dan pergerakan kita mulai jam enam.... hari ini kita bergerak terlalu lambat.... Tuhan baik sama kita, Dia tahu kita sudah tidak mandi dari kemarin. Makanya kita dimandikan sepanjang hari ini..." Kucoba membuat lelucon dan beberapa orang kulihat tersenyum.

Aku masuk kedalam tenda dan menyipakan perlengkapan tidurku. Sebelum tidur aku teringat beberapa temanku tadi solat setelah makan. Aku duduk dengan kaki bersila tetapi masih dalam sleeping bag. Aku berdoa memohon agar diberi kelancaran dalam perjalanan kali ini.

Sekitar jam 4 pagi aku terbangun. Mungkin karena dingin atau karena keinginan buang air kecil mendorongku segera bergegas keluar tenda.
Suasana masih gelap dan kulihat ditenda sebelah sudah mulai aktivitas.
Aku berjalan menuju bivouac tempat memasak dan mulai memasak air. Beberapa rekan keluar tanda dan bergabung denganku.
"Kalian sudah berkemas" tanyaku kepada mereka.
"Sudah.... tinggal makan dan semua siap" jawabnya.
"Kamu ambil alih ini, aku mau kemas-kemas" perintahku singkat.
Aku masuk kedalam tenda. Melipat sleeping bag dan mulai berkemas.
Hari cerah ketika kamu mulai makan. Semangat kami semakin timbul, lelucon dan saling ejek mulai beredar lagi. Suara tawa juga terdengar sesekali.
Kuambil peta dan kucoba memperkirakan posisi kami.

Jam enam tepat kami mulai pergerakan. Meski kabut cukup tebal, pergerakan pagi itu berjalan cepat.
Mungkin mencoba mengejar keterlambatan kemarin. Bergerak dengan cepat sampai keringat mengucur dimuka kami, Kalau kemarin kami basah oleh air, siang ini kita basah oleh keringat.
Sekitar jam 1200 kami beristirahat makan, makan siang kami adalah biscuit dan air putih. Ini sengaja kami lakukan agar tidak memakan waktu terlalu lama.
Jam 1230 kami mulai berjalan lagi.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sebuah petir menggelagar dengan keras. Mungkin menyambar sesuatu di sekitar kami. Suranya begitu keras sampai aku hampir terjatuh karenanya.
Kami semua terdiam dan berhenti melakukan semua kegiatan.
Setelah keterkejutan kami hilang, kami mulai berjalan lagi.

Suara petir di kejauhan sesekali terdengar. Awan gelap mulai datang.
Sekitar jam 2 hujan mulai datang. Kamipun mengambil ponco masing-masing dan mengenakannya.
Hujan turun dengan sangat deras. Sperti dicurahkan dari langit. Sepertinya kami sedang berjalan dibawah air terjun.
Begitu beratnya perjalanana ini, serasa Semeru tidak ingin kami datang menemuinya.
Kami telah lama berlatih untuk hal semacam ini. Tiada pernah ada keluhan keluar dari mulut kami.
Udara dingin mulai menggeranyangi tubuh kami, seakan mencoba menahan langkah kami untuk maju mendaki.
Jalanan mulai licin tetapi tidak menyurutkan semangat kami, bergerak cepat dibawah hujan akan menghangatkan badan.
Kulihat di jamku ketika kami beristirahat, jam 3.15 dibawah sebuah pohon rindang kami berkumpul.
"Kita jalan sejam lagi.... leader cari tempat datar dan kita dirikan tenda" perintahku singkat.
"Semua sehat?" aku setengah berteriak kepada rombonganku.
"Pit kamu sehat?" dari belakangku terdengar sebuah teriakan.
Aku langsung mencari wajah Pipit diantara rombongan.
"Lumayan..." sahut Pipit dari sebelahku,
Kulihat wajah Pipit memang kelihatan agak pucat.
"Kamu berapa kali jatuh tadi...." tiba-tiba seorang rekan di belakangku berteriak lagi.
"Lumayan...." sahut Pipit lagi,

Kami bersiap berangkat. Leader mulai membabat dengan petunjuk seorang rekan dengan membawa kompas.
Kudekati Pipit dan kulihat wajahnya, Terlihat dia kurang sehat.
"Gimana keadaanmu?" kutanya pada Pipit.
"Lumayan lah..... kayaknya lebih dingin dari biasanya" jawab Pipit.
"Kamu masih bisa melanjutkan perjalanan?" tanyaku pada Pipit.
"Masih" jawabnya singkat.
"Kamu jalan didepanku.... Kalau ada apa-apa segera beri tahu aku" kuminta pipit jalan lebih dahulu dan aku mengikuti langkahnya.
Beberap kali Pipit jatuh, aku dan teman didepan Pipit selalu membantu.

Sekitar sejam berjalan ternyata belum juga ditemukan tanah yang baik untuk mendirikan tenda. Kami tetap berjalan. Sekitar 1630 leader berteriak, Kita istirahat disini.
Kulihat sebidang tanah dengan kemiringan lumayan yang sebetulnya tidak layak untuk mendirikan tenda. Kuamati sekitar dan kulihat keatas. Sekitar 50 M diatas kami. "Coba kamu kesana, periksa apa itu benar datar" perintahku pada rekan dibelakangku.
Dia berlari keatas, mengamaiti sejenak dan berteriak "Lebih bagus disini daripada disitu".
Kami segera bergegas naik dan pada saat itu Pipit terjatuh seperti terpleset.
Aku segera turun mencoba membantu.
Kulihat wajah Pipit semakin pucat.
"Kalian segera siapkan prosedur istirahat..... Kamu bantu aku tolong Pipit berjalan" perintahku pada seseorang didepan.
Aku memampah Pipit dan yang lain mambantu mebawakan carier Pipit.

Kami berkerja cepat menyiapkan tempat istirahat. Tempat istirahat kami kali ini tidak terlalu datar dan banyak ditumbuhi semak.
Beberapa orang menyiapkan makanan. Aku dan seorang rekan membantu Pipit masuk ke tenda yang telah berdiri.
Melepas sepatu dan mengganti bajunya dengan baju kering.
Kami masukan Pipit dalam sleeping bag dan kuminta rekanku menjaga.
"Apa yang kamu rasakan? tanyaku pada Pipit.
"Dingin" jawabanya singkat dan lirih.
"Semua juga dingin kok.... setelah minum teh panas kamu akan pulih" kataku meyakinkan Pipit.

Pipit diberi minum susu hangat dan makan oat. Kami menyuapi dan memberi minuman hangat, harapan kami itu akan membuat kondisinya membaik.
Aku meminta rekan-rekanku agar bergiliran menjaga Pipit.
Setelah menengok Pipit dalam tendanya aku kembali ke tendaku.
Berdoa dan mencoba tidur, Di kejauhan terdengar petir sesekali bergerumuh.
Suara hujan kurasakan seperti teror malam itu.

"Pak.... bangun Pak...." beberapa goncangan kurasakan ditubuhku.
Kubuka mataku dan kulihat rekanku menatap padaku.
"Pipit..." dia berbicara singkat.
Langsung aku keluar dari tendaku tanpa memakai alas kaki, aku berjalan menuju tenda Pipit.
Ditenda itu semua orang terbangun. Duduk mengelilingi Pipit sambil berdoa.
Kupegang wajah Pipit. Dingin.
Kutempelkan tanganku di hidung Pipit, tak kurasakan kehangatan keluar dari sana. Kupegang nadinya, tidak terasa apapun juga. Kucoba lagi mempertajam perasaanku dan mencoba tenang. Kucoba mencari nandinya.
Aku mencoba mencari dadanya dan menyingkap sleeping bag yang telah terbuka. Mencoba melakukan resusitasi, seseorang memeggangku "Kami sudah lakukan itu sebelum memanggilmu".

Kulihat jam ku, 02.16.
"Bangunkan semua orang" mintaku pada rekan disebelahku.
Aku duduk disebelah Pipit dan mulai berdoa. Beberapa rekan masuk ke tenda dan kami berdesakan dalam tenda. Semua orang berkumpul dalam hening.
Tidak kupedulikan lingkunganku. Aku terus berdoa. Berdoa dan terus berdoa.

Kupakai kerudung jaketku, aku keluar dari tenda. Kuambil golok dari carierku. Hujan turun dari langit seperti tak peduli dengan hal yang sedang kualami.
Air mata menetes di pipiku menyatu dengan tetes air hujan yang mengenai pipiku.
Kupotong 2 batang kayu sepanjang 2.5 M, seorang rekan datang kepadaku membawa 2 buah webbing dan sebuah matras. Seperti memahami benar apa yang akan kubuat dia bergabung denganku.
Dalam diam kami kerjakan bersama pekerjaan itu.

Duduk dalam kepedihan. Beranjak pelan dalam keengganan. Suara kelu menahan ucap.
"Kita turun jam 6 pagi" perintahku lirih kepada semua rekan dalam tenda.
Aku keluar dan mengepak semua barangku. Rasanya berat sekali melakukan pekerjaan itu.
Jam 5.30 dalam guyuran hujan.
Rekan-rekan telah meindahkan Pipit dibawah bivouac tempat masak dan makan. Semua tenda telah dibongkar dan dikemas.
Tubuh berselimut ponco itu terdiam seperti menunggu kami.

"Kita turun lewat jalan yang telah  kita buat..... Aku jadi leader lebih dulu. Kita bergantian membawa Pipit turun. Kamu bawa carier Pipit tidak usah bawa tandu" perintahku mencoba mengusik keheningan.

Kami berjalan dalam diam.
Hujan seperti tidak peduli apa yang kami alami. Dalam doa yang terus kuulang, aku melangkah turun melawati jalan yang telah kami lalui sebelumnya.
Kuingat segala hal tentang Pippit, saat kami bertemu. Keseharian dan segala hala yang kualami bersamanya.
Berjalan turun serasa lebih berat bagiku saat ini. Banyak pikiran berkecamuk. Kuucapkan doa-doa sepanjang perjalanan.

Jalanan licin dan lebatnya hujan tetap setia menemani kami, Sesekali ada rekan yang terjatuh dan kemudian bangkit lagi.
Dingin merayap keseluruh tubuhku serasa ingin membuatku beku.
Sekitar enam jam kami berjalan dan tidak ada keinginanku untuk memerintahkan rombongan beristirahat.
Dalam pikiranku hanya ada satu keinginan, sampai bawah secepat mungkin.

Entah sudah berapa ratus kali doa kuucapkan ketika kulihat di kelangit sebaris sinar matahari menerobos dari celah gelapnya awan.
Pemandangan langka dalam suasana hujan deras seperti itu. Sinar itu miring menyentuh sebuah dataran dibawah kami.

Seperti magnet sinar itu menarikku untuk menyimpang dari jalan yang telah kami buat. Aku berjalan mantap kearah dimana sinar itu mendarat.
Semakin dekat kami dengan sinar itu, hujan semakin berkurang.
Dibaliknya rerimbunan pohon besar, kulihat sepetak padang rumput menghampar. Dengan bergegas aku berjalan kearah padang itu. Rekan-rekanku mengikuti langkahku dalam diam.
Sempai dipadang umput itu, hujan sudah berhenti. bergerak lebih ketengah kurasakan kehangatan matahari.
Hujan sudah reda.
"Kita istirahat sejenak disini.... " kulihat rekanku meletakan Pipit dan mereka mulai melepas cariernya dan mulai duduk di padang rumput itu.
Istirahat dalam diam, kukeluarkan botol minum dan meminumnya. Aku tidak ingat kapan terakhir aku minum,
Rasa segar menyelimuti tubuhku. sepertinya semua beban hari itu hilang. Benar-benar badan dan pikiranku teras ringan dan plong. seperti sebuah kelegaan besar masuk dalam tubuhku.
Kulihat semua rekanku duduk dan ada pula yang berbaring, menikmati hangatnya matahari.

Disalah satu pojok padang itu kulihat seorang lelaki duduk memegang sebuah kayu. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia berada disana.
Rupanya sudah dekat kampung pikirku.
Aku memperhatikan orang itu, seperti menarikku aku segera bangun dan menemui orang itu,
Setelah dekat kusapa orng itu "cari rumput Mas aku menyapa...." orang itu hanya menjawab dengan senyum, Sebuah senyum sangat manis.
Ada luka disekitar keningnya dan itu tidak memudarkan ketampanan, kelembutan dan wibawa diwajahnya. Seperti wajah yang tidak asing bagiku. Kucoba mengingat tentang sebuah sosok seperti itu.
Kudekati lebih dekat orang itu. Wajahnya memang benar-benar ramah dan penuh damai.
Aku duduk di dekatnya sambil tetap tersenyum.
"Tinggal disekitar sini ya..." kataku lagi.
Dengan tersenyum orang itu menunjuk kesuatu arah.
"Semua baik....?" katanya lembut dan mantap.
Ucapan itu seperti menarik semua kekuatanku dan kesadaranku.

Kami terdiam dan aku menunjuk ker rekan-rekanku yang berjarak sekitar 50M dari tempat kami berbicara.
Lelaki itu berdiri dengan bantuan kayu di tangan.
Sambil berjalan kucoba mengingat sosok yang sepertinya tidak asing bagiku.
Dengan mantap pria itu berjalan, ada seperti bekas luka baru di tangan kanan kulihat ketika dia berjalan sambil memegang tongkat.
Aku seperti pernah mengenal pria itu, entah dimana. Kucoba terus memasuki otakku untuk mencari gambar orang tersebut, tidak berhasil. Tapi aku yakin di suatu tempat pernah bertemu.

Dedekatinya rombongan kami. Rekan-rekan rupanya sudah tahu bahwa kami tidak sendiri lagi.
"Apa yang terjadi?" tanya pria itu dengan ramah.
Semua diam, alampun seperti tidak bersuara ketika pria itu menyelesaikan kalimat pendeknya.
Hanya kedamaian dan kehangatan yang kurasakan saat ini.
Merasa tidak mendapat jawaban apapun, pria muda itu perlahan berjalan menuju tempat Pipit diletakan.
Disingkapnya ponco yang menutupi tubuh pipit.
Pria itu memegang wajah Pipit. Aku melihatnya dan masih terus mencoba mengingat sosok didepanku itu.
Wajah tampannya dan kedamaian yang terpancar dari dirinya seperti tak asing bagiku.

Pria itu berdiri dan menatapku.
Dengan tersenyum, memandangku, dia berkata "Semua baik-baik saja.... Kuharap lain kali ketika kita bertemu kamu bisa lebih ramah".
Setelah menunggu tidak ada suara keluar dari semua orang pria itu kembali berkata "Aku pergi dulu.... Hati-hati di jalan".
Lelaki itu pergi meninggalkan kami ,tidak perduli tentang keadaan Pipit, tidak peduli dengan kesedihan yang kami alami.

Sepeninggal pria itu, kegelapan muncul. Hujan kembali datang. Kami bergegas memakai ponco yang telah kami lepas.
Hujan turun deras, pria tadi lupa menutup kembali Pipit, hujan mengenai wajahnya.
Air hujan itu ternyata membangunkan Pipit "Hujan..." teriak Pipit sambil mencoba mencari ponconya.
Kami ternganga melihat kejadian itu, dan memperhatikan Pipit berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya dan berdiri dari tandu untuk mengenakan ponco yang tadi menyelimuti tubuhnya.
Aku berdiri terdiam dan tidak memperdulikan hujan mengenai tubuhku. Aku tetap diam seperti rekan lainnya.

Dalam perjalanan pulang aku mencoba mengingat pria yang tadi kutemui.
Ada seraut wajah muncul disana dan aku menepisnya, menepisnya dan terus menepisnya.
Sampai hari ini ketika aku ingat kejadian itu... Aku menepisnya dan mengatakan bahwa semua itu salah.


(Beberapa tahun kemudian Pipit jatuh kedalam jurang dalam suatu kegiatan. Aku menggunakan tali segera turun kebawah sementara Bayu dengan bantuan sebuah pohon cemara mengikatkkan dirinya, membantuku turun. Sampai dibawah Pipit kulihat tersangkut disebuah pohon kecil. Aku merengkuh dan mengikatnya dengan tali. Kemudian kami bersama naik keatas menggunakan tali yang di jaga Bayu.
Beberapa tahun kemudian setelah aku bekerja di Jakarta. Sebuah khabar aku terima dari Sulawesi. Pipit hanyut kelaut ketika dia sedang melakukan expedisi tebing. Banyak saksi mata melihat mereka mencoba bertahan disebuah pohon. Air terus naik sampai akhirnya mereka melepaskan pegangan dari pohon itu dan hanyut kelaut.
Semua rekannya ditemukan dalam keadaan selamat ditengah laut, kecuali Pipit. Sampai tulisan ini kubuat, tidak ada khabar dan jenasahnya juga tidak pernah ditemukan.
Ada yang mengatakan bahwa Pipit selamat dan bergabung dengan Suku Laut dan menetap disana. Tidak ada kejelasan tentang hal ini. Tapi sampai hari ini keluarganya masih meyakini Pipit masih hidup.
Aku lebih suka berpendapat, "Pipit melanjutakan sendiri petualangannya".)

No comments:

Post a Comment

HARUS KUAT

Kalian harus kuat. Agar kamu bisa menolong dirimu sendiri. Membantu orang lain yang membutuhkan. Hiduplah sederhana karena kalian memil...