Wednesday, December 31, 2014

RENUNGAN AKHIR TAHUN 2014

Sakbejo bejone uwong sing menang, luwih bejo uwong sing menangi.
Seberuntungnya orang menang, lebih beruntung orang yang melewati.
(Sebuah nasehat seorang kejawen kepadaku di tahun 1994)



Banyak hal terjadi selama 2014 ini. Benar-benar sebuah tahun yang harus dikenang.

Tekat awal ku di tahun 2014 adalah Menurunkan berat badan, menstabilkan cash flow dan terakhir menyelesaikan kuliah.
Aku berhasil menyelesaikan teoriku dan saat ini sedang menyusun thesis, kuharap sekitar Febuari semua akan selesai. Terlambat tapi aku yakin akan selesai.

Berat badanku turun 5kg, dari 80kg kini tersisa 75kg, kuharap tahun 2015 aku bisa mencapai sekitar 72kg.

Cash flow stabil meski terengah. Investasi jangka panjang banyak memakan cash flowku. Saat ini aku banyak ber invest di investasi jangka pendek. Hal ini diperlukan agar ketika butuh cash flow, segera bisa dicairkan. Tahun 2015 kuharap cash flow lebih baik dan lebih stabil.
Menstabilkan cash flow, aku lakukan dengan mengurangi investasi yang sulit dicairkan (jangka panjang), aku focuskan pada saham (jangka pendek).
Saham menjadi alternative pilihan yang baik, karena dengan saham ketika aku punya pilihan investasi lain atau ada keperluan dana yang mendesak dengan mudah segera kucairkan.
Awal permainan saham aku bermain bagus, banyak teman memuji karena peningkatan nilai sahamku bergerak sangat fantatis. Kupikir itu hanya keberuntungan pemula.
Disuatu titik aku tidak waspada. Aku mengalami kejatuhan.
Akhir tahun setelah meredakan pikiranku aku mulai memaintain sahamku secara lebih serius. Dan rupanya dewi fortuna memihaku. Aku bisa melaju lebih kencang, seperti angin dari belakang meniup perahu layarku.

Beberapa tahun yang lalu kami membeli rumah dengan kondisi memprihatinkan. Kami beli dengan harga murah. Renovasi awal kami lakukan di bulan July 2014 dan selesai di Desember tahun yang sama. Benar-benar perubahan mencolok dari rumah itu.
Hal istimewa dari rumah ini adalah adanya kamar mandi dengan luas 3X3M dan ukiran tanganku sendiri berjudul pelican.
Kuharap kedamaian, kesucian dan kebahagiaan selalu menyelimuti rumah ini.
 Sebelum Renovasi
Sesudah Renovasi

Coco diterima di Loyola Semarang dan Pandu 1Cm lebih tinggi dari aku. Anak-anak tumbuh dengan sangat pesat secara fisik. Pandu sudah bisa naik motor lelaki sementara Coco sudah mulai jarang mengompol. Kuharap kedepan mereka semua berhasil dalam studinya.
Istriku masih memiliki keinginan kuat untuk menambah seorang anak tapi Tuhan sampai hari ini belum mengabulkan permohonan kami.

Bertemu seorang mantan pacar dan mengunjungi makam Ayah Ibunya.
Kuharap kedamian selalu menyertai diri dan keluarganya.

Seorang sahabatku jatuh dan aku tidak yakin dia bisa bangkit lagi dalam waktu dekat. Kekuatiran terbesarku adalah dia tidak bisa bangkit lagi. Tapi aku berusaha membantu, paling tidak dia bisa kembali dititik awal sebelum kejatuhan, paling tidak secara psikologis.
Begitu berat beban yang dia tanggung sampai hampir kehilangan kewarasan. Aku temani semampuku dan sebisaku. Kuberi nasehat yang baik agar dia bisa tumbuh dan bangkit lagi. Kekerasan kepalanya sulit dikendalikan. Kebiasaan bohong menjadi awal kejatuhannya.
Diawali dengan kebiasaan bohong, akhirnya dia membohongi suami, aku dan semua orang disekitarnya.
Sebelum kejadian buruk ini terjadi, aku sudah berusaha keras menasehati. Sampai pernah terjadi pertengkaran. Ungkapan "kepo" dan "terlalu mencampuri urusan orang" pernah dilontarkan padaku.
Aku tahu persis, cerita ini akan berujung seperti apa. Kusampaikan semua kekuatiranku dan dia tetap keras kepala. Aku mengalami kesakitan luar biasa disaat pergumulan itu. Aku akhirnya harus menyerah kalah dan menyingkir.

Sekitar bulan Agustus 2014 segala kekuatiranku menjadi nyata. Intuisiku bekerja sangat akurat.
Kerugian uang  lebih dari Rp.1M, sebuah angka yang cukup besar dimasa sekarang ini. Terjebak hutang. Dari semua persoalan, pukulan psikologis adalah pukulan terbesar, hingga dia tidak sanggup menanggung. Hal baik mulai muncul, imannya menjadi lebih baik dibanding sebelum kejatuhan. Biaya untuk mendapat iman lebih baik ternyata sangat mahal.
Kegagalan berdamai dengan suami dan lingkungan menjadi masalah tersendiri.
Dia berencana / ingin bercerai dengan sang suami. Karena dipandang perkawinan seperti neraka. Segala cita-cita yang dia bayangkan sebelum pernikahan nampak menjauh dari harapan.
Dalam kesakitan kutemani semampuku. Tapi sepertinya kerusakan itu belum bisa diperbaiki. Ada godaan besar untuk meninggalkannya lagi. Perilaku yang tidak pantas yang aku tidak mau menceritakan disini menjadi salah satu sebab. Mungkin hanya efek yang muncul dari sakit akibat kejatuhan.
Dalam suatu diskusi dengan sahabat lain, terjadi kesimpulan. Dulu semua indah dan dia adalah salah satu sahabat terbaik. Kini dia jatuh dan menjadi orang aneh dan menyebalkan. "Apakah kita akan meninggalkannya?" kami sepakat menjawab "Kita tidak akan meninggalkan dia, meski seburuk apapun kondisinya."

Sahabatku lainya, jatuh dalam dosa berat. Dia selalu mengutarakan alasan "aku manusia biasa" atau "aku tidak sempurna". Apakah ada manusia "luar biasa dan sempurna"?? Ketidak mampuan melawan godaan setan dalam diri menjadi alasan utama kejatuhan dalam dosa. Dia memang suka dengan dosa khusus itu, seperti kebanggaan bila berhasil.
Melihat perilaku tidak pantas didepan mataku dan lingkungan, membuat aku mengelus dada.
Kukatakan bahwa akan terjadi hal-hal buruk atas akibat perilakunya dan dia tidak percaya. Makian "pikiran kotor" dan "bangsat" sudah keluar dari mulutnya.
Iblis begitu kuat berpengaruh. Sedemikian kuat, sampai kuputuskan untuk meninggalkan, karena kekuatiran imanku akan terganggu dan perasaan jijik begitu menyiksa.
Kekesalan karena telah menyeret diriku dalam petualangan buruk, sampai aku mengutuknya.
"Apa yang aku lakukan itu jelek tapi tidak jahat" hal ini pernah disampaikan kepadaku. Tapi seseungguhnya, hal yang dia lakukan sangat jahat. Pelecehan agama dan nilai-nilai masyarakat dianggap hal biasa.
Dia belum jatuh tapi pasti akan jatuh, hanya masalah waktu. Saat ini dia sedang berpesta pora dengan iblis karena berhasil menutupi kebusukan.
Ada pertentangan kuat dalam batinku, aku seperti seorang sahabat yang buruk, meninggalkan sahabat sedang terpuruk. Saat ini aku tidak dalam posisi aman untuk menolong  ataupun terlibat.

Persoalan kantor datang seperti tiada habis-habisnya. Begitu berat, hingga aku tidak yakin apakah aku memilih untuk menghadapi ini semua atau lari.
Proses transisi yang begitu panjang dan menyakitkan akhirnya berakhir. Transisi selalu menyakitkan bagi para pelakunya, demikian juga dengan diriku. Setelah masa trasnisi berlalu kondisi tidak juga membaik.
Dari benturan budaya dan ketidak mampuan mengambil keputusan, menjadi keluhan serius bagi para karyawan.
Diawal bulan Desember aku mulai menata hati. Memperkuat batinku dengan berpasarah diri.
Meski sudah kulakukan, seperti tidak bisa, tidak berhasil. Beban begitu menghimpit.
Masalah pengambilan keputusan yang buruk, lambat, salah atau tidak ada keputusan sama sekali menjadi masalah berat dalam hidupku.
Begitu beratnya ini juga menjadi beban berkepenjangan di bulan-bulan akhir 2014.
Aku tidak yakin dengan cara kerja pemimpinku. Aku tidak bisa mengerti, bagaimana mereka menterjemahkan visi dan misi yang telah mereka buat sendiri.
Ketidak mampuan menterjemahkan visi dalam tindakan operational, menurut prediksiku akan menimbulkan masalah besar. Tidak hanya disaat ini tetapi ditengah jalan, bahkan diakhir cerita.
Aku sangat berharap para pemimpin perusahanku segera menyadari kesalahannya. Aku ingin mereka mengambil langkah yang tepat, demi menyelamatkan bisnis dari keterpurukan. Sebesar apapun uang dimasukan, bila dengan menggunakan cara ini hasilnya hanya kesia-siaan.
Tidak ada tawar menawar tentang hal ini. "Berubah atau mati".

Aku bertekat, malam Natal aku harus benar-benar damai. Aku dan istri yang mendapat tugas sebagai pembawa kanak-kanak Yesus, aku harus damai.

Dalam perjalanan malam dari Jakarta ke Pekalongan. Aku berpikir keras tentang bagaimana mendamaikan hati dan perasaanku. Banyak alternative aku pikirkan untuk berdamai. Waktu tinggal sehari lagi seperti batas yang telah kutentukan aku harus damai. Mendamaikan batinku dengan dinamika duniaku.
Aku belum tenang dengan hasil yang telah kulalui selama 2014.
Pada suatu titik di sekitar Brebes, kartu Novena Tiga Salam Maria yang aku selibkan di atas kepala pengemudi jatuh dipahaku.
Aku terkejut, kupelankan kendaraanku dan mencoba meruntut balik pikiran terakhirku.

Hasilnya adalah :
Pekerjaan, aku yakin bisa melewati ini meski dengan berat tapi itu harus kulalui agar aku semakin bijak menghadapi dinamika pekerjaan. Aku yakin ada pelajaran berharga aku bisa dapatkan dari situasi saat ini. Kuputuskan juga kalau memungkinakan dapat pekerjaan baru akan aku ambil.
Aku bisa bersyukur, bahwa aku mendapatkan pelajaran berat di kantor dan aku yakin bisa lulus melewatinya.
Soal sahabatku yang belum jatuh. Kuputuskan untuk meninggalkannya. Sudah tidak bisa aku handle, mungkin perjalanan hidup akan memberi pelajaran, bahwa hal buruk yang dia lakukan akan membawa kejatuhan. Kejatuhan baik baginya. Kalau dia berusaha, dia akan bangkit dan akhirnya keadaan akan lebih baik bagi buat semua.
Tuhan telah memberi aku kesempatan melihat kebohongan. Tuhan telah memberi petunjuk padaku untuk menyingkir.
Aku harus bisa bersyukur telah dibebaskan untuk menghadle masalah ini.

Banyak hal terjadi selama 2014. Banyak hal menyenangkan dan banyak hal menyedihkan. Aku tidak mau melihat hanya pada sudut tembok yang rusak, aku mau melihat indahnya bangunan secara utuh.
Aku mau belajar dari setumpuk kesalahan dan sederet kegagalan untuk mencapai kebaikan dan kesuksesan kedepan.
Kusingkirkan semua menjelang berakhirnya tahun 2014

Sampai rumah Pekalongan aku peluk istriku. Sudah kuselesaiakan, kusingkirkan semua persoalan, semua sakit hati yang membebani pikiranku. Semua sudah kudamaikan dalam pikiranku.
Aku katakan "Aku berjanji, kedepan tidak ada lagi masalah kantor, masalah relasiku dengan sahabat-sahabatku mengganggu keluarga kita". Aku memeluk erat istriku dan dia nampak bahagia, sama seperti kebahagiaan dan kelegaan yang tengah aku alami.

No comments:

Post a Comment

HARUS KUAT

Kalian harus kuat. Agar kamu bisa menolong dirimu sendiri. Membantu orang lain yang membutuhkan. Hiduplah sederhana karena kalian memil...