Saturday, January 31, 2015

Sayap-sayap Belas Kasih

Kita bekerja keras untuk mendapatkan banyak rejeki. Kita beli rumah, mobil dan sesekali pergi ke rumah makan mewah. Kita masukan anak-anak kesekolah mahal. Akhirnya ketika semua gagal membahagiakan keluarga kita. Ketika senja menjelang kita sadari mereka tidak membutuhkan semua itu. Mereka hanya butuh kebersamaan.


Jika belas kasih dibayangkan sebagai seekor merpati yang anggun, kebijaksanaan adalah bagaikan sayap-sayapnya. Belas kasih tanpa kebijaksanaan tak akan dapat tinggal landas.

Suatu hari, seorang anggota pramuka ingin menunjukkan perbuatan baiknya pada hari itu dengan membantu menyeberangkan seorang nenek di jalanan yang ramai. Masalahnya, si nenek sebenarnya tak ingin menyeberang, tetapi dia merasa sungkan memberitahukan hal itu kepada si anak pramuka.
Cerita tersebut, sayangnya, menggambarkan ada terlalu banyak hal yang terjadi di dunia atas nama belas kasih. Kita kelewat sering mengira bahwa kita tahu apa yang dibutuhkan oleh orang lain.
Seorang pemuda, yang terlahir tuli, tengah mengunjungi dokter untuk pemeriksaan rutin dengan ditemani oleh kedua orang tuanya. Dengan bersemangat sang dokter memberitahu orang tua si pemuda mengenai suatu prosedur pengobatan terbaru yang baru-baru ini dibacanya dari sebuah jurnal kedokteran. Sepuluh persen dari orang-orang yang terlahir tuli dapat dipulihkan kembali pendengarannya melalui sebuah operasi sederhana dan tidak mahal. Sang dokter bertanya kepada orang tua si pemuda apakah mereka ingin mencobanya. Orang tua si pemuda dengan segera mengiyakan.
Pemuda itu adalah salah satu dari sepuluh persen orang-orang tuli yang dapat dipulihkan kembali pendengarannya, namun dia malah menjadi sangat marah dan jengkel kepada kedua orang tua dan dokternya. Dia tidak mengetahui apa yang mereka rembukkan saat pemeriksaan rutinnya. Tak seorang pun yang menanyakan kepadanya apakah dia ingin bisa mendengar. Sekarang dia mengeluh karena dia harus menahan siksaan suara-suara ribut yang terus menerus, yang mana hanya sedikit saja yang dia pahami. Sebenarnya dia memang tidak pernah ingin dipulihkan pendengarannya.
Kedua orang tuanya, dokter, dan saya sendiri, sebelum membaca cerita ini, beranggapan bahwa setiap orang pasti ingin dapat mendengar. Kita pikir kita selalu tahu apa yang terbaik. Belas kasih yang mengandung asumsi seperti itu sungguh tolol dan berbahaya. Itu menyebabkan begitu banyak penderitaan di dunia.
***
Sumber: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Ajahn Brahm) cerita 59.

Saturday, January 24, 2015

JAKET LUSUHKU

Buang saja dan hiduplah dalam kemuliaan.

Aku memiliki suatu hoby unik, duduk di pinggir trotoar sambil merokok. Menghitung mobil dari kanan atau kiri atau sekedar menikmati suasana.
Hobby ini menurut beberapa orang kurang baik. Seorang atasanku pernah menegurku soal masalah ini.
Suatu hari sehabis makan malam dirumah makan kelas atas di Jakarta untuk suatu acara kantor. Sambil menunggu yang lain selesai, aku duduk di trotoar sambil merokok. Tiba-tiba datang direkturku dan menegurku.
Aku kurang ingat redaksinya tapi kira-kira seperti ini "Kamu itu seorang manager, berbuat dan bersikaplah seperti layaknya seorang manager." Aku segera berdiri tanpa membantah pernyataan atasanku.
Ketika teguran itu diberikan, aku tidak sepenuhnya sadar kesalahanku. Beberapa tahun kemudian baru aku menyadari memang aku salah. Tidak semestinya berlaku seperti itu.
Bakat dari kecil
Gedenya

Aku kehilangan duah buah jaket coklat. Setelah mencari kesana kemari, istri bilang bahwa jaket itu telah dia buang.
Aku sedih sekali mendengar informasi itu.
Meskipun sudah lusuh, kumal dan ada banyak tambalan disana sini, aku amat menyukainya. Dengan jaket itu aku merasa nyaman. Melakukan hobyku duduk di pinggir trotoar sambil merokok atau sekedar nongkrong dengan tukang parkir atau gembel manapun. Dengan jaket itu aku merasa dijembatani. Merasa bisa diterima.
Dalam kesedihan itu istriku mendekatiku dan menasehatiku, sebuah nasehat yang pernah kuberikan padanya. Meski nasehat itu dulu kuberikan sifatnya perumpamaan, kali ini nasehat ini diberikan dalam kaitan realita jaketku yang telah dia buang.

Nasehatnya kira-kira seperti ini :
Seorang pengemis tinggal dekat istana raja. Suatu hari, ia melihat pengumuman dipasang di luar gerbang istana. Raja mengadakan suatu perjamuan besar. Siapa saja yang berpakaian kerajaan diundang ikut serta dalam perjamuan.
Si pengemis pergi dengan sedih. Ia memandang baju compang-camping yang dikenakannya dan mendesah. Tentu saja hanya para raja dan keluarga kerajaan yang mengenakan jubah kerajaan, begitu pikirnya. Sekonyong-konyong suatu ide muncul di benaknya. Memikirkannya saja telah membuat tubuhnya gemetar. Beranikah ia?

Si pengemis kembali ke istana. Ia menghampiri penjaga gerbang istana. 
“Tolong saya, pak, saya mohon bicara dengan Sri Baginda.” 
“Tunggulah di sini,” jawab penjaga. 
Beberapa menit kemudian ia telah kembali. “Sri Baginda berkenan menemuimu,” demikian katanya, lalu menghantar si pengemis masuk.  
“Kamu ingin menemuiku?” tanya raja. 
“Ya, Tuanku raja. Hamba begitu ingin ikut serta dalam perjamuan yang Tuanku selenggarakan, tetapi hamba tidak memiliki jubah kerajaan untuk dikenakan pada perjamuan tersebut. Sudilah Tuanku, maafkan kelancangan hamba, sudilah Tuanku memberikan kepada hamba salah satu jubah usang Tuanku, sehingga hamba dapat datang ke perjamuan.”

Tubuh sang pengemis bergetar begitu hebat hingga ia tak sempat melihat sekilas senyum di wajah sang raja. “Engkau sungguh bijaksana datang kepadaku,” kata raja. 
Raja memanggil putranya, sang pangeran. “Ajaklah ia ke kamarmu dan berilah ia pakaian dari pakaianmu.”
Pangeran melakukan apa yang diperintahkan ayahnya dan segera saja sang pengemis telah berdiri di depan sebuah cermin, mengenakan jubah yang tak berani ia berharap untuk memilikinya. “Sekarang engkau layak ikut ambil bagian dalam perjamuan raja esok malam,” kata pangeran. “Tetapi, yang lebih penting dari itu, engkau tidak akan pernah memerlukan baju lagi. Jubah yang engkau kenakan itu akan tahan untuk selamanya. Sang pengemis jatuh tersungkur, “Oh, terima kasih,” serunya.
Tetapi, sementara ia pergi meninggalkan kamar, terlihat olehnya tumpukan baju dekilnya di atas lantai. Ia ragu-ragu. Bagaimana jika yang dikatakan pangeran itu tidak benar? Bagaimana jika ia membutuhkan baju lamanya lagi? Segera dipungutnya baju compang-campingnya.

Perjamuan itu jauh lebih mengagumkan daripada yang dapat dibayangkannya. Namun demikian, ia tak dapat menikmati perjamuan seperti seharusnya. Ia telah menggulung baju compang-campingnya menjadi suatu buntalan, dan buntalan itu berkali-kali jatuh dari pangkuannya. Hidangan berlalu cepat dan sebagian hidangan paling lezat itu terlewatkan olehnya.

Waktu membuktikan bahwa pangeran benar. Jubah pemberian pangeran tahan untuk selamanya. Tetapi, tetap saja pengemis yang malang itu merasa sayang untuk membuang baju compang-campingnya. Dengan berlalunya waktu, orang mulai lupa akan jubah kerajaan yang dikenakannya. Mereka hanya melihat buntalan baju compang-camping yang ia bawa kemanapun ia pergi. Mereka bahkan menyebutnya sebagai pak tua dengan baju compang-camping.

Suatu hari, sementara ia terbaring mendekati ajal, raja mengunjungi Si pengemis. Melihat wajah sedih raja ketika raja melihat buntalan dekil baju compang-camping di sisi pembaringannya. Tiba-tiba teringatlah sang pengemis akan ucapan pangeran dan ia menjadi sadar bahwa buntalan dekil itu telah membuatnya kehilangan kesempatan menikmati kerajaannya yang sebenarnya sepanjang hidupnya. Ia pun menangis pilu mengingat kebodohannya.

Moral cerita.
Sering kita membawa masa lalu kedalam kehidupan saat ini yang sesungguhnya tidak diperlukan.
Mungkin kita masih menjalin kontak dengan mantan pacar kita, mungkin kita masih trauma dengan kegagalan kita, mungkin kita terbebani oleh persoalan lama yang tidak terselesaikan atau mungkin hal-hal lain.
Yang seseungguhnya saat ini kita sudah mendapatkan pengganti lebih bagus lebih baik.
Untuk apa memakai baju butut itu? Berikan saja kepada mereka yang lebih layak menerimnya. Baju itu akan menjadi berkat baginya dan menjadi masalah bagimu.
Untuk apa menjalin hubungan dengan mantan pacar kita? Biarkan saja suaminya mengurusnya. Suaminya akan menghandelnya lebih baik.
Untuk apa bergelut dengan prospek gagal kita dimasa lalu? Biarkan saja orang lain mengambilnya, mereka lebih layak dan mungkin lebih baik menjalankan prospek itu.
Selamat tinggal jaket lusuhku. 
Aku masih merindukanmu.
Selamart tinggal masa lalu kelabu. 
Aku sudah merelakanmu.

Friday, January 2, 2015

17 Tahun Merenda Kasih

Saya berjanji mencintai dan menghormatimu, dalam untung dan malang sampai kematian memisahkan kita.


Ketika akan menikah saya ditanya, "Kenapa menikahi Lilik?"
"Karena saya mencintainya." jawabku singkat.
mungkin jawaban diatas tidak tepat, tapi pada saat itu jawabanku seperti itu. Pengertianku seperti itu.
Apakah setiap cinta harus selalu diakhiri dengan pernikahan? Apa beda cinta dan senang?
Kukira, andai banyak pertanyaan itu diajukan kepadaku akan sulit kujawab.
Aku mendifinisikan cinta adalah "ketika kita selalu ingin bertemu dengan seseorang"... itulah cinta. Definisi singkat dan praktis. Mungkin juga tidak benar tapi aku menyukai definisi itu.

Sesekali istri bertanya kepadaku, "Kalau aku meninggal kamu akan kawin lagi?"
Kujawab tegas "tidak."
"Kenapa?"
"Aku sangat menyukai kebebasanku, terlalu banyak hal kukorbankan untuk menjalani pernikahan."
Begitu pernah kujawab dan kujelaskan.
Tapi bila hari ini istri bertanya akan kujawab "Tidak.... Aku tidak bisa mencintai orang lain selain dirimu."

Waktu berlalu setelah 17 tahun menjalani pernikahan. Banyak suka duka aku lalui. Ada kejatuhan ada kebangkitan.
Banyak kejadian membuatku semakin yakin bahwa istriku adalah belahan jiwaku. Hidup dan kehidupanku. kulihat dia begitu setia mendampingi ketika kesulitan datang. Kulihat bagaimana dia merawatku ketika aku sakit. Kulihat bagaimana dia menyiapkan baju untukku. Kulihat bagaiman dia melayani dengan iklas.
Aku orang sederhana. Berharap pada hal-hal sederhana dan hal itu kudapatkan pada diri Lilik. Lilik memenuhi kebutuhanku secara sederhana dan akupun tidak berharap sesuatu yang luar biasa dari istriku.

Penikahan kami menghasilkan sebuah keluarga. Banyak hal kulakukan dan mengorbankan keluargaku. Tapi setelah 17 tahun menikah akau berjanji kepada istriku. Tidak ada teman, hoby atau pekerjaan yang akan menjadikan keluargaku nomer dua dalam prioritas hidupku. Istriku dan keluargaku akan menjadi prioritas utama dalam setiap pertimbangan.
Demikian janjiku kepada istriku dan kuhara aku bisa mmemenuhi janji itu. Tapi kuharap jika dibelakang hari aku punya masalah dan marah-marah di rumah, kuharap istri dan keluargaku akan memahami.... Aku  akan berusaha yang terbaik menjadi suami dan ayah yang baik.

Pandu dan Coco adalah buah cinta kasih kami. Aku memiliki dua anak yang berbeda. Secara fisik dan kemampuan. Tapi keduanya begitu indah.
Kedua anak kami memiliki karakter yang benar-benar berbeda. Yang satu sangat senang belajar dan yang lain tidak suka pelajaran sekolah. Keduanya bandel dan suka bersengkongkol untuk sesuatu yang kekanakan seperti main sampai larut.Tapi aku bangga dengan mereka berdua.
Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Kalau ada kesalahan besar aku sebagai seorang ayah, adalah aku tidak secara penuh mendampingi mereka. Hanya ketika berkumpul, aku ingin dihadapan merekaa ketika mereka membuka matanya dipagi hari sampai malam ketika mereka tertidur, aku mendampingi mereka.
Kugunakan waktu liburku seefektive mungkin mendampingi keluargaku.
Bahkan sampai hari ini kkami sering tidur berempat. Kalau pergi keluar kota dan harus menyewa hotel, kamipun memilih untuk satu kamar. Berdesakan tapi akrab.
Tahun 2014 hal yang berubah Pandu kini lebih tinggi dariku. Coco sudah keterima di SMA Loyola Semarang. Kami pindah rumah. Istri belum juga hamil.

Kami merayakan ulang tahun perkawinan ke 17. Sekalian acara syukuran rumah.
Acaranya sederhana, cuma orgen tunggal, bakar ikan dan makan tentu saja.

Sebuah lagu untuk suami tercinta... Kok "sewu kuto"....  Ndak nyambung khan.

 Ibu dan mas Pomo menyumbangkan lagu.
Pandu dan Nia... Kini sudah menjadi remaja. Keduanya suaranya bagus. "Jangan menyerah"

Ibu dokter menyumbang lagu juga.

Tamunya terlalu banyak. untung datangnya tidak serentak. Syukur semua lancar.



Wednesday, December 31, 2014

RENUNGAN AKHIR TAHUN 2014

Sakbejo bejone uwong sing menang, luwih bejo uwong sing menangi.
Seberuntungnya orang menang, lebih beruntung orang yang melewati.
(Sebuah nasehat seorang kejawen kepadaku di tahun 1994)



Banyak hal terjadi selama 2014 ini. Benar-benar sebuah tahun yang harus dikenang.

Tekat awal ku di tahun 2014 adalah Menurunkan berat badan, menstabilkan cash flow dan terakhir menyelesaikan kuliah.
Aku berhasil menyelesaikan teoriku dan saat ini sedang menyusun thesis, kuharap sekitar Febuari semua akan selesai. Terlambat tapi aku yakin akan selesai.

Berat badanku turun 5kg, dari 80kg kini tersisa 75kg, kuharap tahun 2015 aku bisa mencapai sekitar 72kg.

Cash flow stabil meski terengah. Investasi jangka panjang banyak memakan cash flowku. Saat ini aku banyak ber invest di investasi jangka pendek. Hal ini diperlukan agar ketika butuh cash flow, segera bisa dicairkan. Tahun 2015 kuharap cash flow lebih baik dan lebih stabil.
Menstabilkan cash flow, aku lakukan dengan mengurangi investasi yang sulit dicairkan (jangka panjang), aku focuskan pada saham (jangka pendek).
Saham menjadi alternative pilihan yang baik, karena dengan saham ketika aku punya pilihan investasi lain atau ada keperluan dana yang mendesak dengan mudah segera kucairkan.
Awal permainan saham aku bermain bagus, banyak teman memuji karena peningkatan nilai sahamku bergerak sangat fantatis. Kupikir itu hanya keberuntungan pemula.
Disuatu titik aku tidak waspada. Aku mengalami kejatuhan.
Akhir tahun setelah meredakan pikiranku aku mulai memaintain sahamku secara lebih serius. Dan rupanya dewi fortuna memihaku. Aku bisa melaju lebih kencang, seperti angin dari belakang meniup perahu layarku.

Beberapa tahun yang lalu kami membeli rumah dengan kondisi memprihatinkan. Kami beli dengan harga murah. Renovasi awal kami lakukan di bulan July 2014 dan selesai di Desember tahun yang sama. Benar-benar perubahan mencolok dari rumah itu.
Hal istimewa dari rumah ini adalah adanya kamar mandi dengan luas 3X3M dan ukiran tanganku sendiri berjudul pelican.
Kuharap kedamaian, kesucian dan kebahagiaan selalu menyelimuti rumah ini.
 Sebelum Renovasi
Sesudah Renovasi

Coco diterima di Loyola Semarang dan Pandu 1Cm lebih tinggi dari aku. Anak-anak tumbuh dengan sangat pesat secara fisik. Pandu sudah bisa naik motor lelaki sementara Coco sudah mulai jarang mengompol. Kuharap kedepan mereka semua berhasil dalam studinya.
Istriku masih memiliki keinginan kuat untuk menambah seorang anak tapi Tuhan sampai hari ini belum mengabulkan permohonan kami.

Bertemu seorang mantan pacar dan mengunjungi makam Ayah Ibunya.
Kuharap kedamian selalu menyertai diri dan keluarganya.

Seorang sahabatku jatuh dan aku tidak yakin dia bisa bangkit lagi dalam waktu dekat. Kekuatiran terbesarku adalah dia tidak bisa bangkit lagi. Tapi aku berusaha membantu, paling tidak dia bisa kembali dititik awal sebelum kejatuhan, paling tidak secara psikologis.
Begitu berat beban yang dia tanggung sampai hampir kehilangan kewarasan. Aku temani semampuku dan sebisaku. Kuberi nasehat yang baik agar dia bisa tumbuh dan bangkit lagi. Kekerasan kepalanya sulit dikendalikan. Kebiasaan bohong menjadi awal kejatuhannya.
Diawali dengan kebiasaan bohong, akhirnya dia membohongi suami, aku dan semua orang disekitarnya.
Sebelum kejadian buruk ini terjadi, aku sudah berusaha keras menasehati. Sampai pernah terjadi pertengkaran. Ungkapan "kepo" dan "terlalu mencampuri urusan orang" pernah dilontarkan padaku.
Aku tahu persis, cerita ini akan berujung seperti apa. Kusampaikan semua kekuatiranku dan dia tetap keras kepala. Aku mengalami kesakitan luar biasa disaat pergumulan itu. Aku akhirnya harus menyerah kalah dan menyingkir.

Sekitar bulan Agustus 2014 segala kekuatiranku menjadi nyata. Intuisiku bekerja sangat akurat.
Kerugian uang  lebih dari Rp.1M, sebuah angka yang cukup besar dimasa sekarang ini. Terjebak hutang. Dari semua persoalan, pukulan psikologis adalah pukulan terbesar, hingga dia tidak sanggup menanggung. Hal baik mulai muncul, imannya menjadi lebih baik dibanding sebelum kejatuhan. Biaya untuk mendapat iman lebih baik ternyata sangat mahal.
Kegagalan berdamai dengan suami dan lingkungan menjadi masalah tersendiri.
Dia berencana / ingin bercerai dengan sang suami. Karena dipandang perkawinan seperti neraka. Segala cita-cita yang dia bayangkan sebelum pernikahan nampak menjauh dari harapan.
Dalam kesakitan kutemani semampuku. Tapi sepertinya kerusakan itu belum bisa diperbaiki. Ada godaan besar untuk meninggalkannya lagi. Perilaku yang tidak pantas yang aku tidak mau menceritakan disini menjadi salah satu sebab. Mungkin hanya efek yang muncul dari sakit akibat kejatuhan.
Dalam suatu diskusi dengan sahabat lain, terjadi kesimpulan. Dulu semua indah dan dia adalah salah satu sahabat terbaik. Kini dia jatuh dan menjadi orang aneh dan menyebalkan. "Apakah kita akan meninggalkannya?" kami sepakat menjawab "Kita tidak akan meninggalkan dia, meski seburuk apapun kondisinya."

Sahabatku lainya, jatuh dalam dosa berat. Dia selalu mengutarakan alasan "aku manusia biasa" atau "aku tidak sempurna". Apakah ada manusia "luar biasa dan sempurna"?? Ketidak mampuan melawan godaan setan dalam diri menjadi alasan utama kejatuhan dalam dosa. Dia memang suka dengan dosa khusus itu, seperti kebanggaan bila berhasil.
Melihat perilaku tidak pantas didepan mataku dan lingkungan, membuat aku mengelus dada.
Kukatakan bahwa akan terjadi hal-hal buruk atas akibat perilakunya dan dia tidak percaya. Makian "pikiran kotor" dan "bangsat" sudah keluar dari mulutnya.
Iblis begitu kuat berpengaruh. Sedemikian kuat, sampai kuputuskan untuk meninggalkan, karena kekuatiran imanku akan terganggu dan perasaan jijik begitu menyiksa.
Kekesalan karena telah menyeret diriku dalam petualangan buruk, sampai aku mengutuknya.
"Apa yang aku lakukan itu jelek tapi tidak jahat" hal ini pernah disampaikan kepadaku. Tapi seseungguhnya, hal yang dia lakukan sangat jahat. Pelecehan agama dan nilai-nilai masyarakat dianggap hal biasa.
Dia belum jatuh tapi pasti akan jatuh, hanya masalah waktu. Saat ini dia sedang berpesta pora dengan iblis karena berhasil menutupi kebusukan.
Ada pertentangan kuat dalam batinku, aku seperti seorang sahabat yang buruk, meninggalkan sahabat sedang terpuruk. Saat ini aku tidak dalam posisi aman untuk menolong  ataupun terlibat.

Persoalan kantor datang seperti tiada habis-habisnya. Begitu berat, hingga aku tidak yakin apakah aku memilih untuk menghadapi ini semua atau lari.
Proses transisi yang begitu panjang dan menyakitkan akhirnya berakhir. Transisi selalu menyakitkan bagi para pelakunya, demikian juga dengan diriku. Setelah masa trasnisi berlalu kondisi tidak juga membaik.
Dari benturan budaya dan ketidak mampuan mengambil keputusan, menjadi keluhan serius bagi para karyawan.
Diawal bulan Desember aku mulai menata hati. Memperkuat batinku dengan berpasarah diri.
Meski sudah kulakukan, seperti tidak bisa, tidak berhasil. Beban begitu menghimpit.
Masalah pengambilan keputusan yang buruk, lambat, salah atau tidak ada keputusan sama sekali menjadi masalah berat dalam hidupku.
Begitu beratnya ini juga menjadi beban berkepenjangan di bulan-bulan akhir 2014.
Aku tidak yakin dengan cara kerja pemimpinku. Aku tidak bisa mengerti, bagaimana mereka menterjemahkan visi dan misi yang telah mereka buat sendiri.
Ketidak mampuan menterjemahkan visi dalam tindakan operational, menurut prediksiku akan menimbulkan masalah besar. Tidak hanya disaat ini tetapi ditengah jalan, bahkan diakhir cerita.
Aku sangat berharap para pemimpin perusahanku segera menyadari kesalahannya. Aku ingin mereka mengambil langkah yang tepat, demi menyelamatkan bisnis dari keterpurukan. Sebesar apapun uang dimasukan, bila dengan menggunakan cara ini hasilnya hanya kesia-siaan.
Tidak ada tawar menawar tentang hal ini. "Berubah atau mati".

Aku bertekat, malam Natal aku harus benar-benar damai. Aku dan istri yang mendapat tugas sebagai pembawa kanak-kanak Yesus, aku harus damai.

Dalam perjalanan malam dari Jakarta ke Pekalongan. Aku berpikir keras tentang bagaimana mendamaikan hati dan perasaanku. Banyak alternative aku pikirkan untuk berdamai. Waktu tinggal sehari lagi seperti batas yang telah kutentukan aku harus damai. Mendamaikan batinku dengan dinamika duniaku.
Aku belum tenang dengan hasil yang telah kulalui selama 2014.
Pada suatu titik di sekitar Brebes, kartu Novena Tiga Salam Maria yang aku selibkan di atas kepala pengemudi jatuh dipahaku.
Aku terkejut, kupelankan kendaraanku dan mencoba meruntut balik pikiran terakhirku.

Hasilnya adalah :
Pekerjaan, aku yakin bisa melewati ini meski dengan berat tapi itu harus kulalui agar aku semakin bijak menghadapi dinamika pekerjaan. Aku yakin ada pelajaran berharga aku bisa dapatkan dari situasi saat ini. Kuputuskan juga kalau memungkinakan dapat pekerjaan baru akan aku ambil.
Aku bisa bersyukur, bahwa aku mendapatkan pelajaran berat di kantor dan aku yakin bisa lulus melewatinya.
Soal sahabatku yang belum jatuh. Kuputuskan untuk meninggalkannya. Sudah tidak bisa aku handle, mungkin perjalanan hidup akan memberi pelajaran, bahwa hal buruk yang dia lakukan akan membawa kejatuhan. Kejatuhan baik baginya. Kalau dia berusaha, dia akan bangkit dan akhirnya keadaan akan lebih baik bagi buat semua.
Tuhan telah memberi aku kesempatan melihat kebohongan. Tuhan telah memberi petunjuk padaku untuk menyingkir.
Aku harus bisa bersyukur telah dibebaskan untuk menghadle masalah ini.

Banyak hal terjadi selama 2014. Banyak hal menyenangkan dan banyak hal menyedihkan. Aku tidak mau melihat hanya pada sudut tembok yang rusak, aku mau melihat indahnya bangunan secara utuh.
Aku mau belajar dari setumpuk kesalahan dan sederet kegagalan untuk mencapai kebaikan dan kesuksesan kedepan.
Kusingkirkan semua menjelang berakhirnya tahun 2014

Sampai rumah Pekalongan aku peluk istriku. Sudah kuselesaiakan, kusingkirkan semua persoalan, semua sakit hati yang membebani pikiranku. Semua sudah kudamaikan dalam pikiranku.
Aku katakan "Aku berjanji, kedepan tidak ada lagi masalah kantor, masalah relasiku dengan sahabat-sahabatku mengganggu keluarga kita". Aku memeluk erat istriku dan dia nampak bahagia, sama seperti kebahagiaan dan kelegaan yang tengah aku alami.

Sunday, December 28, 2014

Kepercayaan Adalah Landasan Semua Hubungan

Apa arti semua keunggulan, tanpa kepercayaan hanya sia-sia.



Pernahkah anda tidur dengan seekor ular berbisa dikamar anda? Seperti itulah rasanya ketika anda hidup dengan seseorang yang anda tidak percayai.
Saya gunakan perumpamaan ular, dikarenakan memang dari semua binatang, ular adalah salah satu mahluk yang tidak bisa dipercaya. Seekor ular tetap akan menggigit pemiliknya. Ada beberapa kejadian, pawang ular tetap digigit ular peliharaannya dan sang pawang harus merelakan jari dan ada pula yang  kehilangan nyawa.
Rasanya pasti tida nyaman. Gelisah karena munculnya banyak kekuatiran. Apa yang anda lakukan terasa serba salah.

Begitu pentingnya kepercayaan, hingga menjadi dasar semua hubungan. Dari hubungan pertemanan, bisnis, atasan bawahan, pacaran sampai kepada hubungan masyarakat dengan president. Kepercayaan adalah suatu hal yang tidak bisa ditawar dan dinegoisasikan. Kepercayaan adalah harga mati.

Untuk membangun kepercayaan diperlukan :
1. Integritas
Kejujuran selalu lebih berharga daripada kemunafikan yang paling memikat sekalipun. Orang akan menaruh respek pada sebuah kejujuran. Dan kita akan merasa sangat lega dan langgeng jika diterima dan dipercayai sebagaimana adanya kita. Jadi, mulailah menyingkirkan kepura-puraan dan mulailah tampil just the way you are.
2. Kebajikan
Kebajikan ditunjukkan melalui keteladanan hidup dan perbuatan baik. Tanpa kebajikan, siapa yang akan mempercayai kita ?
 3. Waktu
Pepatah mengatakan, waktu adalah penguji terbaik. Melewati kurun waktu, suatu hubungan akan semakin teruji. Kepercayaan dibangun seumur hidup, jadi pertahankanlah seumur hidup.
 4. Pertanggungjawaban
Integritas dan pertanggungjawaban bagaikan koin dengan dua sisi. Sekali kita berintegritas, otomatis kita pasti dapat memberi pertanggungjawaban.
 5. Bukti
Setumpuk kata-kata itu tidak ada harganya bila bukti bekata lain. Mulailah memberi bukti daripada memberi penjelasan dan alasan.
Kesulitan selalu datang dalam sebuah hubungan. Tapi selama ada kepercayaan hubungan itu akan tetap berjalan.
Dalam sebuah perkawinan meskipun ada masalah seberat apapun, dengan kepercayaan hubungan perkawinan tetap bisa dipertahankan.
Seorang suami sudah setahun menganggur dan kondisi tersebut tentu saja akan mempengaruhi kehidupan ekonomi keluarga tersebut. Selama ada kepercayaan dari pihak istri bahwa suaminya memang telah berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan. Istri percaya bahwa suatu hari keadaan akan berubah. Keyakinan akan masa depan lebih baik merupakan perwujutan kepercayaan istri kepada suaminya.
Dalam suatu perkawinan ada kemungkinan salah satu pihak berselingkuh. Meskipun sesakit apapun kondisi itu tapi bila pihak yang diselingkuhi percaya, bahwa hal ini akan berlalu bisa diharapkan bahwa perkawinna mereka bisa diselamatkan.
Demikian pula sebaliknya, meski sang suami hanya terlambat 30 menit dari kantor, tanpa kepercayaan sang istri hal itu sudah cukup alasan bagi seorang istri meninggalkan suaminya. Mungkin dalam hal ini kita harus melihat secara keseluruhan. Keterlambatan 30 menit itu mungkin adalah tetes terakhir, dimana tetesan itu akan menyebabkan air di gelas tertumpah.
Dalam sebuah pertempuran, seorang komandan harus mendapatkan kepercayaan penuh dari para prajuritnya. Kepercayaan itu ditunjukan dengan cara menjalankan semua perintah dengan sebaik-baiknya. Para prajurit akan merelakan nyawanya bagi sang komandan bila itu memang diminta. Sebaiknya meskipun para tentara itu telah dilatih untuk selalau mematuhi perintah komandannya tapi bila para prajurit itu kehilangan kepercayaan pada atasan, akan terjadi bencana pada kesatuan tersebut.
Begitu pentingnya kepercayaan dalam suatu hubungan. Maka usaha yang memadai diperlukan untuk tetap membangun sebuah kepercayaan. Dengan  kepercayaan suatu hubungan akan berhasil dan akan menghasilkan buah kebaikan dalam hubungan tersebut.

Tuesday, December 16, 2014

KEBAHAGIAAN

Ada banyak nasehat tentang bagaimana menjadi bahagia. Dalam tulisanku kali ini aku mengkritisi sebuah perbedaan tentang kebahagiaan.

Sebetulnya tidak ada yang salah, tiap orang memiliki jalan berbeda mencapai kebahagiaan. Dimana sebetulnya seseorang selalu berusaha untuk dapat menemukan kebahagiaan sesuai hati nuraninya.
Mari membahasnya.

Kita sebut saja ini kelompok pertama :

"Berhentilah mencari keluar apa yang sebetulnya bisa anda temukan di dalam diri anda. Buatlah keputusan untuk berbahagia" pendapat sederhana.
Kebahagiaan bergantung pada keputusan anda sendiri untuk bahagia.
Jadi kebahagiaan adalah suatu keputusan. Kapan saja, dimana saja anda dapat memutuskan untuk berbahagia atau tidak. Kebahagiaan suatu pilihan.
Atau sebuah cerita. Ketika seseorang mencari kalung mutiara yang sebenarnya melilit di lehernya. Dia mencari keluar ruangan bahkan mencari keluar rumah tapi tidak juga ditemukan. Sebetulnya kalung mutiara itu terikat di lehernya.

Ada beberapa nasehat lain yang semacam hal diatas yang intinya kebahagiaan adalah keputusan sendiri, pilihan kita sendiri ada dalam diri kita sendiri. Kebahagiaan begitu sederhana, putuskan semua lekatan-lekatan dan anda bahagia.

Putuskkan anda bahagia dan anda bahagia.

Apa nasehat ini salah? Saya kira sangat debatable tapi nanti kita bahas titik bahaya dari sikap semacam ini.

Andai kata anda saya sodori sebuah kisah nyata seperti ini :
Rekan saya suatu hari menabrak seseorang wanita yang sedang menggendong anak kecil. Lalu lari dari tanggung jawab. 
Dia mendengar bahwa kedua korban meninggal dunia.
Apakah rekan saya akan bahagia? Mungkin rekan saya akan terganggu, karena hati kecilnya akan mengusik pikiran andaikata nasehat diatas diterapkan.
Dan memang seperti itulah yang terjadi. Dia ikut kursus meditasi, menemui seorang psikolog berbicara dengan pendeta dan semua gagal.
Apakah masalah ini bisa dia pecahkan dengan meditasi?
Jawabnya mestinya bisa. Rekan saya bisa tenang dan dia bisa memilih untuk bahagia. Tidak ada yang salah juga bukan tentang hal ini.
Dengan susah payah akhirnya teman saya berhasil bahagia. Dia berhasil melupakan dan memaafkan dirinya sendiri.
Kebahagiaan berasal dari diri anda sendiri dan itu benar.
Kebahagiaan itu bersyukur... Ya syukurlah anda tidak tertangkap sampai hari ini.
Penjahat mengasihi penjahat lainnya dan mereka berbahagia dengan hasil kejahatannya. Tapi pernahkah mereka memikirkan kebahagiaan korban kejahatannya?


Sekarang kita bahas kelompok kedua :

Lebih banyak kejadian ketika seseorang menabrak seseorang di jalan dia akan berhenti. Menolong korban dan membawanya kerumah sakit. Dia abaikan seggala resiko hukum dan keuangan yang akan menderanya dibelakang hari.
Apakah dia bisa berbahagia dengan keputusan ini? Nilainya sama, "bisa".
Bagaimana kalau kita gunakan nasehat dari Dalai Lama.
  • Jika kamu ingin orang bahagia, praktikkan welas asih. Jika kamu sendiri mau bahagia, praktikkan welas asih. 
  • Kebahagiaan tidak terjadi begitu saja. Itu muncul dari hasil perbuatan kita. 
  • Kebahagiaan adalah buah tindakan.

Ada juga nasehat sejenis, seperti bahagiakan orang lain maka kamu akan bahagia. Bahagia adalah ketika kita mampu bersyukur dan sebagainya.
Ada pula yang berbeda memandang suatukebahagiaan, seperti kebahagiaan adalah ketika dirinya mendapatkan wanita soleh.... Menurutku ini juga tidak salah.



Ada perbedaan mencolok antara dua kelompok nasehat diatas.
Mungkin keduanya baik atau mungkin keduanya salah tapi saya mencoba berkompromi. Kebahagiaan kelompok pertama lebih bersifat duniawi dan selfish tapi universal.
Sementara kebahagiaan kelompok kedua lebih cocok untuk mereka yang berjiwa sosial dan memahami nilai-nilai moral.
Keduanya mengajarkan tentang cara meraih kebahagiaan hanya dengan cara berbeda.

Sunday, December 14, 2014

MENGUSIR STRESS

10 Cara Mengusir Stress

Mengapa banyak orang yang kesulitan untuk mengurangi tingkat stres dan meningkatkan tingkat hidup mereka? Kesulitan mengatasi stres bisa menurunkan kualitas kinerja Anda.

TalentSmart melakukan penelitian terhadap lebih dari 1 Juta orang dan mendapatkan data kalauorang sukses adalah orang yang terampil dalam mengelola emosi mereka. Emosi mereka tetap terkendali dan mereka merasa tenang meski dihadapkan situasi stres.
Sedikit berbeda, penelitian yang dilakukan oleh UC Berkeley mengatakan, orang yang stres adalah orang yang mampu membujuk sel-sel otak mereka untuk bertanggung jawab menghadapi situasi tersebut.
Caranya dengan menstimulus otak agar tidak membuat stres ini berkepanjangan. Biasanya, orang yang melakukan hal ini cenderung akan menjadi orang lebih waspada.
Sebenarnya situasi stres diciptakan oleh Anda sendiri. Jadi hanya Anda yang bisa menjaga agar tak terjadinya stres yang dialami menjadi sesuatu yang berlebihan. Mungkin 10 cara yang dilansir dari laman Forbes, yang ditulis Minggu (14/12/2014) ini patut Anda coba:
1. Katakan Tidak
Semakin Anda sulit mengatakan `tidak` maka semakin besar kemungkinan Anda alami stres, kelelahan, bahkan depresi.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Universitas California, AS, tersebut kata `tidak` yang digunakan dalam `saya tidak bisa berpikir` atau `saya tidak yakin` bukanlah komitmen yang dilakukan oleh orang sukses. Orang sukses mengatakan tidak pada hal yang mereka takuti.
2. Syukuri yang Dimiliki
Sebesar 23 persen stres akan berkurang setelah Anda merenungkan dan mensyukuri segala hal yang telah Anda miliki. Penelitian yang dilakukan Universitas California, AS, menunjukkan bahwa bersyukur dapat meningkatkan mood, energi, dan kesehatan fisik.
3. Hindari Kata `Bagaimana Jika`
Kata 'bagaimana jika' hanya akan mengiring Anda untuk menghabiskan waktu dengan kekhawatiran yang belum tentu berguna. Berfokuslah pada hal yang lebih penting dan tidak mementingkan kemungkinan yang tak berarti seperti kejadian yang sudah terjadi.
4. Diskonek Ponsel
Tak hanya yang lelah dengan situasi stres, ponsel Anda pun merasa yang sama. Penelitian menunjukkan bahwa sesuatu yang sederhana seperti beristirahat tidak memeriksa email dapat membantu mengurangi stres.

Tidak Menyerah

5. Tidur yang Cukup
Tidur sangat penting meningkatkan kecerdasan emosional dan mengurangi tingkat stres yang Anda alami. Ketika tidur, otak mengisi kembali energi positif dan membuang kenangan yang tidak menyenangkan.
Kontrol diri sulit didapatkan jika Anda kurang tidur. Memang situasi stres seolah-olah membuat Anda tidak mempunyai waktu tidur, tapi luangkan waktu tidur malam dan perhatian tingkat kualitas tidur Anda.
6. Olahraga
Berolahraga minimal 10 menit dapat membantu mengurangi stres. Sebab olaharaga berguna untuk menstilumus saraf yang dapat menenangkan dan mengendalikan emosi Anda.
7. Tak Menyimpan Dendam
Dendam hanya akan membuat diri Anda tergerus oleh emosi negatif. Para peneliti di Emory University menunjukkan bahwa hal ini bisa menghancurkan kesehatan Anda dari waktu ke waktu, bhakan bisa menyebabkan tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.
8. Tidak Menyerah
Dalam suatu konflik, emosi negatif hanya akan menimbulkan pertempuran tak sehat dan merusak diri Anda. Pertempuran yang bijaksana tanpa emosi negatif akan membuat Anda merasa puas luar biasa saat menjadi pemenang.
9. Berfokus Diri
Orang yang berlatih kesadara agar lebih fokus, bahkan tidak melakukan suatu meditasi, merasa dapat mengontrol munculnya pikiran dan perilaku nakal. Ini adalah cara terbaik mengurangi stres. Hal ini biasanya dilakukan oleh Biksu Budha.
10. Menyingkirkan Pikiran Negatif
Pikiran negatif itu hanya sebuah pikiran, bukan fakta. Jika Anda menemukan pikiran negatif atau bahkan suatu perasaan pesimis, segera hentikan dan tuliskan.
Menuliskan pikiran negatif dapat membantu Anda merasa lebih lega dan tenang. Pikiran Anda pun bisa mengevaluasi suatu kebenaran secara lebih rasional dan jernih. (Jazaul A/Ahm)

Thursday, December 11, 2014

PERJUMPAAN

Sebuah cerita untukmu tentang sebuah expedisi yang gagal.

Waktu itu sekitar tahun 1991, aku tidak ingat persis kapan itu, termasuk tahun kejadian. Kenapa aku tidak mampu mengingat, semata karena aku memang ingin melupakan. Menganggap cerita itu tidak pernah terjadi karena mungkin cerita ini salah atau memang tidak terjadi.
Atau aku memang tidak pernah berminat menceritakan cerita ini. Biarlah kami saja menyimpan cerita ini. Kalau engkau membaca cerita ini, hal yang harus kamu pahami bahwa ini memang sebuah cerita. Sebuah cerita bukan sebuah fakta. Sebuah cerita untuk mempercayai bahwa keajaiban atau keslahan selalu ada. Bukan keajaiban, mungkin hanya sekedar kesalahan penafsiran.
Seperti kukatakan dimuka, aku tidak ingat persis waktu kejadiannya. Yang aku tahu persis waktu itu musim hujan dan memang ketika peristiwa itu terjadi hujan menjadi keseharian cerita ini.

Petualangan menjadi salah satu bagian dari kehidupanku.
Keluar masuk hutan. naik turun gunung. Mengunjungi tempat menarik.
Kadang aku mengunjungi tempat-tempat angker hanya untuk membuktikan keangkerannya.
Aku pernah sampai gua Langse di tahun 1985, Gunung Slamet, ada sebuah daerah yang dilarang untuk dikunjungi, sebuah daerah dimana katanya orang tidak boleh kesana aku pernah mengunjungi. Pernah sampai gunung Srandil, Kemukus dan sebagainya.
Bahkan ketika naik gunung Lawu. Selain perjalanan ke puncak, ku selingi untuk menjelajahi tempat-tempat yang mestinya tidak dikujungi orang. Berbicara dengan para pertapa atau para penjelajah rohani. Berbicara pada mereka kita menjadi lebih mengerti, bagaiman dunia telah berjalan dan bagaimana mengahadapi dunia dengan lebih baik.
Apakah aku percaya mistik? Banyak hal terjadi selama perjalananku dan banyak hal tidak bisa kujelaskan. Secara keilmuanku ataupun religiku. Atau memang ilmu dan religiku masih jauh dari cukup untuk memahami.
Bagiku perjalanan ketempat yang kata mereka angker seperti menaikan andrenelinku. Meng explore rasa ingin tahuku. Jadi kukira bukan soal percaya atau tidak percaya.

Sebuah rencana perjalanan menuju puncak Semeru dengan cara membuka rute baru. Lewat rute yang bukan jalur pendakian.
Dampit nembak kearah 30 derajat (Utara timur laut) dengan tujuan Ranu Kumbolo, menuju ke Arca Pada, naik kepuncak dan kembali lewat jalur pendakian biasa, lewat Ranu Pane.
Rombongan kami melakukan perjalanan dengan kereta menuju malang. Cari transport ke Dampit menginap semalam. membeli beberapa perbekalan dan mulai mendaki. Tahap awal yang harus kami lakukan adalah menentukan titik awal pendakian, sesuai dengan rencana gambar peta topografi yang kami bawa.

Hari itu udara cerah ketika kita mencari titik awal pendakian. Sang Mahameru terlihat sangat gagah dai posisi kami berdiri.
Aku dengan kompas dan peta yang kuletakan diatas rumput, menentukan titik awal posisi kami.
Beberapa orang sibuk mendirikan tenda sementara yang lain mencari kayu bakar untuk kehangatan malam ini.
Sore menjelang dan tenda telah disiapkan.
Ada dua tenda kami dirikan. Menjelang malam sambil mengelilingi api unggun, kami makan dan berbicara kesana kemari tanpa ujung pangkal.
Kopi dan teh panas menemani kecerian malam. Bintang di langit begitu indah. Sang Bima Sakti terlihat ramah menyapa malam kami.
Sesekali kami saling ejek, sesekali pula kami berbagi pengalaman.
Malam semakin larut dan satu persatu kami mulai masuk dalam tenda untuk istirahat.

Air menetes di mukaku, membangunkanku dan kulirik jam tanganku dan kulihat sudah jam enam pagi. Hujan diluar tenda, terdengar air menetes menyentuh tenda menciptakan irama yang indah.
Dengan menggeliat malas kulihat teman setandaku sudah bangun, mereka sedang mengemas perlengkapan.
Setelah mengumpulkan kesadaran aku segera melipat sleeping bag ku.
"Jam berapa hujan mulai?" tanyakau kepada rekan setendaku.
"Aku solat subuh tadi hujan sudah turun, lebih lebat dari sekarang" salah seorang rekanku menyahut.
Kukenakan ponco untuk menghadapi hujan dan aku keluar mengecek tenda sebelah.
Ditenda sebelah kulihat mereka sedang sarapan ala kadarnya.
"Selesaikan makan dan bongkar tenda, setelah kalian siap kita jalan jam tujuh" aku memberi perintah singkat.

Setelah siap, sekitar jam tujuh kami mulai berjalan mendaki.
Air hujan turun semakin deras, seperti mau menguji kekuatan ponco yang kukenakan.
Jalanan menjadi licin. Golok tebas bekerja tidak optimal dikarenakan air membuat licin pegangan golok.
Sesekali petir menyambar dengan keras. Mencoba menciutkan hati kami tapi kami terus berjalan.
Sesekali ada semak dan tanah kosong shingga kami tidak perlu melakukan penebasan. Dengan memegang kompas seorang rekan mengarahkan jalan yang harus kami tempuh.
"Sebaiknya kekiri sedikit, disitu semak tidak terlalu lebat. Nanti setelah lewat semak itu ada pohon besar itu kita kekanan..." petunjuk arah pergerakan. Melambung, menghindari semak,
Sesekali kami terpleset dan bangun lagi. Pergerakan hari tu begitu lambat.
Udara dingin dan jalanan licin menjadi hambatan tersendiri.

Sekitar jam 12 rombongan kuminta istirahat makan. Hujan masih belum berhenti dikala kami makan siang.
Kami duduk dibawah pohon bergerombol, menikmati biskuit yang kami bawa.
"Selesaiakan makan kalian, jam 1230 kita jalan lagi. jam empat kita dirikan tenda untuk istirahat malam" teriakku kepada semua orang mencoba mengalahkan suara hujan

Selepas makan siang, kami melanjutkan kembali perjalanan. Hujan turun semakin deras. Angin berhembus tidak terlalu kencang, membawa udara dingin menyelinap kedalam ponco kami.
Sesekali kujilati air hujan yang mengalir di wajahku untuk mengurangi dahaga. Rasanya repot kalau harus berjenti dan mengambil tempat air di carier,
Rombongan berjalan lambat dikarenakan medan semakin curam.
Kukeluarkan webing dan menyambungnya, agar kami bisa saling bantu untuk melewati tanjakan tanah yang licin ini.
Tumpukan humus kadang begitu tebal sehingga menambah berat jalan yang harus kulalui.
Sekitar jam setengah empat sore kulihat tempat datar dan kuputuskan untuk mendirikan tenda.

Tenda didirikan dengan cepat. Kami bergerak cepat untuk mengurangi dingin gunung sore itu. Beberapa orang kulihat mendirikan ponco bivouac dan memasak makanan dibawahnya.
Sekitar jam lima makanan siap. Kami mulai makan dalam perlindungan bivouac yang telah disiapkan.
Tidak banyak kata kami ucapkan disaat makan kali ini. Teh panas kuseruput untuk mengurangi dinginnya sore itu.
Kunyalakan sebatang rokok dan mencoba menyamankan dudukku.
"Ada yang sakit?" teriakku pada rombongan.
Tidak ada yang menyahut, dengan setengah berteriak untuk mengalahkan suara hujan kuberteriak lagi "Good... kita tidur cepat malam ini. Bangun pagi dan pergerakan kita mulai jam enam.... hari ini kita bergerak terlalu lambat.... Tuhan baik sama kita, Dia tahu kita sudah tidak mandi dari kemarin. Makanya kita dimandikan sepanjang hari ini..." Kucoba membuat lelucon dan beberapa orang kulihat tersenyum.

Aku masuk kedalam tenda dan menyipakan perlengkapan tidurku. Sebelum tidur aku teringat beberapa temanku tadi solat setelah makan. Aku duduk dengan kaki bersila tetapi masih dalam sleeping bag. Aku berdoa memohon agar diberi kelancaran dalam perjalanan kali ini.

Sekitar jam 4 pagi aku terbangun. Mungkin karena dingin atau karena keinginan buang air kecil mendorongku segera bergegas keluar tenda.
Suasana masih gelap dan kulihat ditenda sebelah sudah mulai aktivitas.
Aku berjalan menuju bivouac tempat memasak dan mulai memasak air. Beberapa rekan keluar tanda dan bergabung denganku.
"Kalian sudah berkemas" tanyaku kepada mereka.
"Sudah.... tinggal makan dan semua siap" jawabnya.
"Kamu ambil alih ini, aku mau kemas-kemas" perintahku singkat.
Aku masuk kedalam tenda. Melipat sleeping bag dan mulai berkemas.
Hari cerah ketika kamu mulai makan. Semangat kami semakin timbul, lelucon dan saling ejek mulai beredar lagi. Suara tawa juga terdengar sesekali.
Kuambil peta dan kucoba memperkirakan posisi kami.

Jam enam tepat kami mulai pergerakan. Meski kabut cukup tebal, pergerakan pagi itu berjalan cepat.
Mungkin mencoba mengejar keterlambatan kemarin. Bergerak dengan cepat sampai keringat mengucur dimuka kami, Kalau kemarin kami basah oleh air, siang ini kita basah oleh keringat.
Sekitar jam 1200 kami beristirahat makan, makan siang kami adalah biscuit dan air putih. Ini sengaja kami lakukan agar tidak memakan waktu terlalu lama.
Jam 1230 kami mulai berjalan lagi.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sebuah petir menggelagar dengan keras. Mungkin menyambar sesuatu di sekitar kami. Suranya begitu keras sampai aku hampir terjatuh karenanya.
Kami semua terdiam dan berhenti melakukan semua kegiatan.
Setelah keterkejutan kami hilang, kami mulai berjalan lagi.

Suara petir di kejauhan sesekali terdengar. Awan gelap mulai datang.
Sekitar jam 2 hujan mulai datang. Kamipun mengambil ponco masing-masing dan mengenakannya.
Hujan turun dengan sangat deras. Sperti dicurahkan dari langit. Sepertinya kami sedang berjalan dibawah air terjun.
Begitu beratnya perjalanana ini, serasa Semeru tidak ingin kami datang menemuinya.
Kami telah lama berlatih untuk hal semacam ini. Tiada pernah ada keluhan keluar dari mulut kami.
Udara dingin mulai menggeranyangi tubuh kami, seakan mencoba menahan langkah kami untuk maju mendaki.
Jalanan mulai licin tetapi tidak menyurutkan semangat kami, bergerak cepat dibawah hujan akan menghangatkan badan.
Kulihat di jamku ketika kami beristirahat, jam 3.15 dibawah sebuah pohon rindang kami berkumpul.
"Kita jalan sejam lagi.... leader cari tempat datar dan kita dirikan tenda" perintahku singkat.
"Semua sehat?" aku setengah berteriak kepada rombonganku.
"Pit kamu sehat?" dari belakangku terdengar sebuah teriakan.
Aku langsung mencari wajah Pipit diantara rombongan.
"Lumayan..." sahut Pipit dari sebelahku,
Kulihat wajah Pipit memang kelihatan agak pucat.
"Kamu berapa kali jatuh tadi...." tiba-tiba seorang rekan di belakangku berteriak lagi.
"Lumayan...." sahut Pipit lagi,

Kami bersiap berangkat. Leader mulai membabat dengan petunjuk seorang rekan dengan membawa kompas.
Kudekati Pipit dan kulihat wajahnya, Terlihat dia kurang sehat.
"Gimana keadaanmu?" kutanya pada Pipit.
"Lumayan lah..... kayaknya lebih dingin dari biasanya" jawab Pipit.
"Kamu masih bisa melanjutkan perjalanan?" tanyaku pada Pipit.
"Masih" jawabnya singkat.
"Kamu jalan didepanku.... Kalau ada apa-apa segera beri tahu aku" kuminta pipit jalan lebih dahulu dan aku mengikuti langkahnya.
Beberap kali Pipit jatuh, aku dan teman didepan Pipit selalu membantu.

Sekitar sejam berjalan ternyata belum juga ditemukan tanah yang baik untuk mendirikan tenda. Kami tetap berjalan. Sekitar 1630 leader berteriak, Kita istirahat disini.
Kulihat sebidang tanah dengan kemiringan lumayan yang sebetulnya tidak layak untuk mendirikan tenda. Kuamati sekitar dan kulihat keatas. Sekitar 50 M diatas kami. "Coba kamu kesana, periksa apa itu benar datar" perintahku pada rekan dibelakangku.
Dia berlari keatas, mengamaiti sejenak dan berteriak "Lebih bagus disini daripada disitu".
Kami segera bergegas naik dan pada saat itu Pipit terjatuh seperti terpleset.
Aku segera turun mencoba membantu.
Kulihat wajah Pipit semakin pucat.
"Kalian segera siapkan prosedur istirahat..... Kamu bantu aku tolong Pipit berjalan" perintahku pada seseorang didepan.
Aku memampah Pipit dan yang lain mambantu mebawakan carier Pipit.

Kami berkerja cepat menyiapkan tempat istirahat. Tempat istirahat kami kali ini tidak terlalu datar dan banyak ditumbuhi semak.
Beberapa orang menyiapkan makanan. Aku dan seorang rekan membantu Pipit masuk ke tenda yang telah berdiri.
Melepas sepatu dan mengganti bajunya dengan baju kering.
Kami masukan Pipit dalam sleeping bag dan kuminta rekanku menjaga.
"Apa yang kamu rasakan? tanyaku pada Pipit.
"Dingin" jawabanya singkat dan lirih.
"Semua juga dingin kok.... setelah minum teh panas kamu akan pulih" kataku meyakinkan Pipit.

Pipit diberi minum susu hangat dan makan oat. Kami menyuapi dan memberi minuman hangat, harapan kami itu akan membuat kondisinya membaik.
Aku meminta rekan-rekanku agar bergiliran menjaga Pipit.
Setelah menengok Pipit dalam tendanya aku kembali ke tendaku.
Berdoa dan mencoba tidur, Di kejauhan terdengar petir sesekali bergerumuh.
Suara hujan kurasakan seperti teror malam itu.

"Pak.... bangun Pak...." beberapa goncangan kurasakan ditubuhku.
Kubuka mataku dan kulihat rekanku menatap padaku.
"Pipit..." dia berbicara singkat.
Langsung aku keluar dari tendaku tanpa memakai alas kaki, aku berjalan menuju tenda Pipit.
Ditenda itu semua orang terbangun. Duduk mengelilingi Pipit sambil berdoa.
Kupegang wajah Pipit. Dingin.
Kutempelkan tanganku di hidung Pipit, tak kurasakan kehangatan keluar dari sana. Kupegang nadinya, tidak terasa apapun juga. Kucoba lagi mempertajam perasaanku dan mencoba tenang. Kucoba mencari nandinya.
Aku mencoba mencari dadanya dan menyingkap sleeping bag yang telah terbuka. Mencoba melakukan resusitasi, seseorang memeggangku "Kami sudah lakukan itu sebelum memanggilmu".

Kulihat jam ku, 02.16.
"Bangunkan semua orang" mintaku pada rekan disebelahku.
Aku duduk disebelah Pipit dan mulai berdoa. Beberapa rekan masuk ke tenda dan kami berdesakan dalam tenda. Semua orang berkumpul dalam hening.
Tidak kupedulikan lingkunganku. Aku terus berdoa. Berdoa dan terus berdoa.

Kupakai kerudung jaketku, aku keluar dari tenda. Kuambil golok dari carierku. Hujan turun dari langit seperti tak peduli dengan hal yang sedang kualami.
Air mata menetes di pipiku menyatu dengan tetes air hujan yang mengenai pipiku.
Kupotong 2 batang kayu sepanjang 2.5 M, seorang rekan datang kepadaku membawa 2 buah webbing dan sebuah matras. Seperti memahami benar apa yang akan kubuat dia bergabung denganku.
Dalam diam kami kerjakan bersama pekerjaan itu.

Duduk dalam kepedihan. Beranjak pelan dalam keengganan. Suara kelu menahan ucap.
"Kita turun jam 6 pagi" perintahku lirih kepada semua rekan dalam tenda.
Aku keluar dan mengepak semua barangku. Rasanya berat sekali melakukan pekerjaan itu.
Jam 5.30 dalam guyuran hujan.
Rekan-rekan telah meindahkan Pipit dibawah bivouac tempat masak dan makan. Semua tenda telah dibongkar dan dikemas.
Tubuh berselimut ponco itu terdiam seperti menunggu kami.

"Kita turun lewat jalan yang telah  kita buat..... Aku jadi leader lebih dulu. Kita bergantian membawa Pipit turun. Kamu bawa carier Pipit tidak usah bawa tandu" perintahku mencoba mengusik keheningan.

Kami berjalan dalam diam.
Hujan seperti tidak peduli apa yang kami alami. Dalam doa yang terus kuulang, aku melangkah turun melawati jalan yang telah kami lalui sebelumnya.
Kuingat segala hal tentang Pippit, saat kami bertemu. Keseharian dan segala hala yang kualami bersamanya.
Berjalan turun serasa lebih berat bagiku saat ini. Banyak pikiran berkecamuk. Kuucapkan doa-doa sepanjang perjalanan.

Jalanan licin dan lebatnya hujan tetap setia menemani kami, Sesekali ada rekan yang terjatuh dan kemudian bangkit lagi.
Dingin merayap keseluruh tubuhku serasa ingin membuatku beku.
Sekitar enam jam kami berjalan dan tidak ada keinginanku untuk memerintahkan rombongan beristirahat.
Dalam pikiranku hanya ada satu keinginan, sampai bawah secepat mungkin.

Entah sudah berapa ratus kali doa kuucapkan ketika kulihat di kelangit sebaris sinar matahari menerobos dari celah gelapnya awan.
Pemandangan langka dalam suasana hujan deras seperti itu. Sinar itu miring menyentuh sebuah dataran dibawah kami.

Seperti magnet sinar itu menarikku untuk menyimpang dari jalan yang telah kami buat. Aku berjalan mantap kearah dimana sinar itu mendarat.
Semakin dekat kami dengan sinar itu, hujan semakin berkurang.
Dibaliknya rerimbunan pohon besar, kulihat sepetak padang rumput menghampar. Dengan bergegas aku berjalan kearah padang itu. Rekan-rekanku mengikuti langkahku dalam diam.
Sempai dipadang umput itu, hujan sudah berhenti. bergerak lebih ketengah kurasakan kehangatan matahari.
Hujan sudah reda.
"Kita istirahat sejenak disini.... " kulihat rekanku meletakan Pipit dan mereka mulai melepas cariernya dan mulai duduk di padang rumput itu.
Istirahat dalam diam, kukeluarkan botol minum dan meminumnya. Aku tidak ingat kapan terakhir aku minum,
Rasa segar menyelimuti tubuhku. sepertinya semua beban hari itu hilang. Benar-benar badan dan pikiranku teras ringan dan plong. seperti sebuah kelegaan besar masuk dalam tubuhku.
Kulihat semua rekanku duduk dan ada pula yang berbaring, menikmati hangatnya matahari.

Disalah satu pojok padang itu kulihat seorang lelaki duduk memegang sebuah kayu. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia berada disana.
Rupanya sudah dekat kampung pikirku.
Aku memperhatikan orang itu, seperti menarikku aku segera bangun dan menemui orang itu,
Setelah dekat kusapa orng itu "cari rumput Mas aku menyapa...." orang itu hanya menjawab dengan senyum, Sebuah senyum sangat manis.
Ada luka disekitar keningnya dan itu tidak memudarkan ketampanan, kelembutan dan wibawa diwajahnya. Seperti wajah yang tidak asing bagiku. Kucoba mengingat tentang sebuah sosok seperti itu.
Kudekati lebih dekat orang itu. Wajahnya memang benar-benar ramah dan penuh damai.
Aku duduk di dekatnya sambil tetap tersenyum.
"Tinggal disekitar sini ya..." kataku lagi.
Dengan tersenyum orang itu menunjuk kesuatu arah.
"Semua baik....?" katanya lembut dan mantap.
Ucapan itu seperti menarik semua kekuatanku dan kesadaranku.

Kami terdiam dan aku menunjuk ker rekan-rekanku yang berjarak sekitar 50M dari tempat kami berbicara.
Lelaki itu berdiri dengan bantuan kayu di tangan.
Sambil berjalan kucoba mengingat sosok yang sepertinya tidak asing bagiku.
Dengan mantap pria itu berjalan, ada seperti bekas luka baru di tangan kanan kulihat ketika dia berjalan sambil memegang tongkat.
Aku seperti pernah mengenal pria itu, entah dimana. Kucoba terus memasuki otakku untuk mencari gambar orang tersebut, tidak berhasil. Tapi aku yakin di suatu tempat pernah bertemu.

Dedekatinya rombongan kami. Rekan-rekan rupanya sudah tahu bahwa kami tidak sendiri lagi.
"Apa yang terjadi?" tanya pria itu dengan ramah.
Semua diam, alampun seperti tidak bersuara ketika pria itu menyelesaikan kalimat pendeknya.
Hanya kedamaian dan kehangatan yang kurasakan saat ini.
Merasa tidak mendapat jawaban apapun, pria muda itu perlahan berjalan menuju tempat Pipit diletakan.
Disingkapnya ponco yang menutupi tubuh pipit.
Pria itu memegang wajah Pipit. Aku melihatnya dan masih terus mencoba mengingat sosok didepanku itu.
Wajah tampannya dan kedamaian yang terpancar dari dirinya seperti tak asing bagiku.

Pria itu berdiri dan menatapku.
Dengan tersenyum, memandangku, dia berkata "Semua baik-baik saja.... Kuharap lain kali ketika kita bertemu kamu bisa lebih ramah".
Setelah menunggu tidak ada suara keluar dari semua orang pria itu kembali berkata "Aku pergi dulu.... Hati-hati di jalan".
Lelaki itu pergi meninggalkan kami ,tidak perduli tentang keadaan Pipit, tidak peduli dengan kesedihan yang kami alami.

Sepeninggal pria itu, kegelapan muncul. Hujan kembali datang. Kami bergegas memakai ponco yang telah kami lepas.
Hujan turun deras, pria tadi lupa menutup kembali Pipit, hujan mengenai wajahnya.
Air hujan itu ternyata membangunkan Pipit "Hujan..." teriak Pipit sambil mencoba mencari ponconya.
Kami ternganga melihat kejadian itu, dan memperhatikan Pipit berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya dan berdiri dari tandu untuk mengenakan ponco yang tadi menyelimuti tubuhnya.
Aku berdiri terdiam dan tidak memperdulikan hujan mengenai tubuhku. Aku tetap diam seperti rekan lainnya.

Dalam perjalanan pulang aku mencoba mengingat pria yang tadi kutemui.
Ada seraut wajah muncul disana dan aku menepisnya, menepisnya dan terus menepisnya.
Sampai hari ini ketika aku ingat kejadian itu... Aku menepisnya dan mengatakan bahwa semua itu salah.


(Beberapa tahun kemudian Pipit jatuh kedalam jurang dalam suatu kegiatan. Aku menggunakan tali segera turun kebawah sementara Bayu dengan bantuan sebuah pohon cemara mengikatkkan dirinya, membantuku turun. Sampai dibawah Pipit kulihat tersangkut disebuah pohon kecil. Aku merengkuh dan mengikatnya dengan tali. Kemudian kami bersama naik keatas menggunakan tali yang di jaga Bayu.
Beberapa tahun kemudian setelah aku bekerja di Jakarta. Sebuah khabar aku terima dari Sulawesi. Pipit hanyut kelaut ketika dia sedang melakukan expedisi tebing. Banyak saksi mata melihat mereka mencoba bertahan disebuah pohon. Air terus naik sampai akhirnya mereka melepaskan pegangan dari pohon itu dan hanyut kelaut.
Semua rekannya ditemukan dalam keadaan selamat ditengah laut, kecuali Pipit. Sampai tulisan ini kubuat, tidak ada khabar dan jenasahnya juga tidak pernah ditemukan.
Ada yang mengatakan bahwa Pipit selamat dan bergabung dengan Suku Laut dan menetap disana. Tidak ada kejelasan tentang hal ini. Tapi sampai hari ini keluarganya masih meyakini Pipit masih hidup.
Aku lebih suka berpendapat, "Pipit melanjutakan sendiri petualangannya".)

Wednesday, December 10, 2014

PULANG 1



Berhanti Berharap

Verse:
Aku tak percaya lagi
Dengan apa yang kau beri
Aku terdampar di sini
Tersudut menunggu mati
Aku tak percaya lagi
Akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi
Sudut gelap hati ini
Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat
Kenapa ada derita
Bila bahagia tercipta
Kenapa ada sang hitam
Bila putih menyenangkan...

Chorus:
Aku pulang...
Tanpa dendam
Kusalutkan.. kemenanganmu

Kau ajarkan aku bahagia
Kau ajarkan aku derita

Aku pulang...
Tanpa dendam
Kuterima.. kekalahanku
Kau tunjukkan aku bahagia
Kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia
Kau berikan aku derita

Back to chorus**

https://www.youtube.com/watch?v=A8swO8dAg40

Nasehats

Dua hal yang harus kamu berikan pada setiap orang, penghormatan dan kemurahan hati.
Dua kegiatan yang harus kamu lakukan dalam hidup, bekerja dan berdoa.
Dua kata yang harus kamu sering sampaikan, maaf dan terimakasih.
Dua hal yang membuatmu damai, maafkan dan lupakan

HARUS KUAT

Kalian harus kuat. Agar kamu bisa menolong dirimu sendiri. Membantu orang lain yang membutuhkan. Hiduplah sederhana karena kalian memil...